Ibadah Haji dalam Sebuah Catatan

Judul Buku: Ke Raudhah Aku ‘kan Kembali   Penyusun	: Sari Meutia  Penerbit	: Mizania  Cetakan	: I, Agustus 2016  Tebal	: 163 halaman ISBN	: 978-602-418-057-7
Judul Buku : Ke Raudhah Aku ‘kan Kembali
Penyusun : Sari Meutia
Penerbit : Mizania
Cetakan : I, Agustus 2016
Tebal : 163 halaman
ISBN : 978-602-418-057-7

Satu demi satu rombongan jamaah haji asal Indonesia telah tiba di Tanah Suci. Menjadi satu dari jutaan tamu Allah tentu akan menjadi sebuah pengalaman istimewa yang tak sanggup dilupakan sepanjang hidup oleh siapa pun.

Ada banyak pengalaman rohani yang terekam dalam benak setiap jamaah, terutama ketika melakukan rangkaian ibadah haji sekaligus berinteraksi dengan jutaan jamaah lain dari berbagai negara. Namun, tidak ada satu kesan yang lebih mendalam bagi para jamaah kecuali ketika akhirnya bisa kembali ke Tanah Air dengan menyandang predikat haji paling pretisius; mabrur. Hanya saja itu tidak mudah. Ada banyak bekal yang mesti dibawa dan melekat pada dirinya, yakni iman, takwa, ilmu, dan juga akhlak mulia.

Terkait hal-hal tersebut buku ini hadir. Buku ini berbeda dengan buku-buku tentang haji lainnya karena apa yang dituangkan penulis di dalamnyabukan teknis pelaksaan haji, seperti syarat, fardhu, rukun, dan sunah haji,melainkan hal-hal penting lain yang menyertainya yang sering dianggap remeh dan terlupakan oleh banyak jamaah haji. Sehingga lebih terasa sebagai cacatan dari teknik pelaksaan haji. Salah satunyacatatan terpentingnya yaitu terkait akhlak atau adab dalam berinteraksi dengan sesama jamaah lain selama di Tanah Suci.

Sari Meutia mengawali cacatannya dengan membahas persiapan-persiapan jelang keberangkatan. Misalnya mempersiapkan keluarga. Untuk memberi rasa aman pada keluarga yang ditinggalkan, terutama anak-anak, jangan memberi kesan susah, sedih, atau kisah-kisah yang membuat mereka gundah, rencanakan juga seluruh kebutuhan dan keuangan dengan matang. Sebaiknya juga menitipkan seluruh surat-surat penting dan berharga, serta asurasi yang dimiliki kepada orang yang bisa dipercaya (hal.20-21).

Sementara, khusus bagi wanita juga harus mencatat secara detail waktu-waktu haidnya, setidaknya enam bulan sebelum berangkat. Selanjutnya, waktu-waktu haid tersebut akan digunakanuntuk memastikan perlu tidaknya seorang wanita mempersiapkan obat penahan haid.

Dari catatan-catatan penulis ini bisa ditarik kesimpulan bahwa para jamaah haji Indonesia semestinya tidak hanya dibekali ilmu berhaji yang benar, tidak hanya dicek kemampuan fisik dan materinya saja. Mereka juga perlu dibekali dengan pengajaran akhlak sederhana, tentang bagaimana menata hati di tengah ribuan para tamu Ilahi. [*]

Oleh: Moh. Romadlon
Penyuka buku. Tinggal di Kebumen

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here