Malam Pengantin

malam pertama ibarat penjahatHingar bingar resepsi pernikahan telah berakhir. Bagas dan Lita telah berada di kamar pengantin. Kamar yang beraroma semerbak bunga, dengan ranjang merah dan kelambunya yang berwarna putih. Bagas dan Lita akan membelah malam pertama mereka. Mencecap surga dunia. Berharap bahagia.

Sayangnya, bahagia yang dirasa Lita, tak sebaliknya dirasa Bagas. Ternyata Bagas kecewa.

“Kenapa kamu tidak jujur dari awal. Ternyata kamu sudah tidak perawan.”

“Maaf mas, aku hanya takut mengungkapkan yang sejujurnya. Itu masa lalu yang pahit buatku.”

“Aku kecewa sama kamu.”

Lita pun hanya bisa menangis tanpa suara.

“Kalau begitu, aku akan mengembalikanmu pada orang tuamu. Maaf aku tidak bisa meneruskan pernikahan ini. Aku sungguh kecewa denganmu.”

“Lalu? Pesta pernikahan ini? Ijab kabul ini? Bagaimana dengan semua ini? Kita kan baru saja memulainya.”

“Semua sudah percuma. Aku hanya tidak ingin kamu dan aku tidak hidup bahagia dengan pernikahan ini.”
***

Lita mengaduk-aduk sup dalam panci yang ada di atas kompor. Ia masih dirundung kesedihan akibat sebuah kegagalan yang belum lama menimpanya. Sup yang ia aduk dan hampir matang, tak ubahnya perasaannya yang diaduk-aduk oleh sebuah pernikahan yang berakhir dalam waktu sehari. Bercampur lebur, layu, dan panas. Lita pun dengan segera membawa supnya, yang siap dihidangkan di meja makan.

Hari itu hari di mana Lita libur bekerja, dan memanfaatkan waktunya untuk memasakkan ibu dan bapaknya. Lita adalah putri tunggal. Bapaknya seorang dosen universitas negeri di Yogyakarta. Ibunya sehari-hari menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Kehidupan mereka harmonis, hampir tidak pernah terjadi keributan di rumah. Lita merupakan anak yang penurut dengan orang tua. Ia dikenal sebagai pribadi yang santun, pintar, dan banyak disukai pria karena kecantikannya.

Lita dikuliahkan di sekolah tinggi ilmu kesehatan oleh bapaknya, agar kelak menjadi seorang perawat. Keinginan bapaknya pun terwujud. Setelah lulus, Lita diterima bekerja di sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Saat menjadi perawat itulah, awal mula Lita bertemu Bagas. Kala itu Bagas menjaga bapaknya yang sedang dirawat di rumah sakit karena stroke, sedangkan Lita bertugas merawat bapaknya Bagas. Kecantikan dan kelembutan Lita membuat Bagas terpikat. Bagas pun melakukan pendekatan, hingga akhirnya berniat untuk meminang Lita. Tak butuh waktu lama bagi Bagas untuk segera melamar Lita yang ketika itu berumur 23 tahun. Terbilang masih muda, namun Lita siap untuk menikah.

Hari itu tak seperti hari-hari biasanya. Suasana di meja makan berubah dingin. Terlihat raut kesedihan di wajah ibu Lita yang tengah melamun, sedangkan bapaknya terlihat tidak terlalu nafsu untuk makan. Lita pun hanya tertunduk dan diam seribu bahasa.

“Nak, ibu ingin bertemu dengan keluarga Bagas. Ini harus dibicarakan secara kekeluargaan,” ucap ibu Lita memecah hening.

“Bu, aku mengerti perasaan Ibu. Tapi sudahlah Bu.. lebih baik ikhlaskan. Lagi pula Ibu menemui keluarganya juga bukan jadi solusi. Tidak akan mengubah keputusan Bagas dan keluarganya.”

Tiba-tiba bapak Lita memotong pembicaraan, “Kamu itu perempuan yang tidak bisa jaga kehormatan. Bikin bapak malu saja!”

“Pak…” tukas ibu Lita.
Bapak Lita lalu meninggalkan meja makan dengan wajah kesal, dan pergi menuju kamar.

“Nak, temukan ibu dengan orang yang telah merenggut keperawananmu. Dia semestinya bertanggung jawab dengan perbuatannya. Kamu sadar tidak, kalau dia adalah akar dari permasalahan ini.”

“Bu, untuk apa kita mengejar masa lalu. Itu yang membuat seseorang sulit bahagia. Terlalu memikirkan masa lalu, dan mudah cemas dengan masa depan.”

“Tapi bagaimana jika ke depannya tidak ada laki-laki yang bisa menerimamu? Ingat Nak, perempuan itu menjadi tak lagi dihargai jika ia sudah kehilangan kehormatannya.”

“Bu, Tuhan itu Maha Adil.”

Semenjak ditimpa permasalahan pelik, yakni mengalami masa pernikahan yang hanya sehari, membuat Lita menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak. Ia tak ingin lagi berlarut-larut dalam kesedihan. Momentum itulah yang membuat Lita makin mendekatkan diri pada Rabb-nya. Ia tak lagi menganggap pernikahan sebagai tujuan utama dalam hidupnya. Ia menikmati masa-masa pemulihan jiwa, hingga menemukan hakikat hidupnya. Lita menjadi pribadi yang pasrah setelah melalui sebuah ujian dengan soal yang rumit dalam kehidupannya.
***

Bagas adalah pria 28 tahun yang bekerja sebagai pegawai bank. Ia lahir sebagai anak terakhir dari tujuh bersaudara. Kedua orang tuanya adalah pensiunan pegawai negeri sipil. Bagas lulus sebagai sarjana akuntansi, dan sudah tiga tahun bekerja sebagai pegawai bank di Yogyakarta. Selama hidupnya, Bagas terbilang pemuda yang tidak pernah aneh-aneh. Ia selalu berusaha melakukan hal yang lurus-lurus saja. Tidak suka mencoba hal-hal yang tidak disukainya, seperti merokok, minum-minuman keras, atau berganti-ganti perempuan. Selama hidupnya pun Bagas hanya pernah pacaran sekali, saat kuliah dan putus menjelang wisudanya. Bagas masih perjaka. Tak pernah sekalipun ia melakukan hubungan seks di luar nikah. Pengalamannya hanya sekedar ciuman bibir dengan mantan pacarnya dahulu. Bagas merupakan pemuda yang punya prinsip, tidak akan melepas keperjakannya sebelum menikah.

Di ruang tamu rumahnya, Bagas berbincang-bincang dengan ibunya. Sementara bapaknya telah meninggal dua bulan sebelum Bagas dan Lita menikah.

“Ibu benar-benar tidak menyangka Dam, kalau Lita itu sudah jebol duluan,” kata ibu Bagas.

“Aku juga tidak menyangka Bu. Waktu di kamar pengantin, dia menceritakan itu terlebih dahulu. Kami belum sempat melakukan hubungan suami-istri. Aku kaget dan sangat menyayangkan sekali. Padahal aku sebagai laki-laki bisa menjaga sampai waktunya, dan berharap mendapat perempuan yang juga bisa menjaga kehormatannya sampai waktunya. Ternyata Tuhan berkehendak lain. Apa mau dikata kalau sudah begini akhirnya. Aku tidak bisa bu,” ucap Bagas.

“Carilah perempuan yang masih perawan. Karena di situlah sumber kebahagiaan sebuah pernikahan. Biar kamu tidak menyesal di tengah perjalanan,” ucap ibunya.

Semenjak memutuskan untuk mengakhiri pernikahan yang hanya sehari itu, Bagas kembali membuka diri untuk perempuan lain. Kali ini ia semakin selektif dalam memilih calon istri. Bertemulah Bagas dengan sosok Eva, perempuan berusia 26 tahun, pegawai bank yang sama dengan Bagas, namun berbeda cabang. Bagas merasa cocok dengan Eva, dan tak butuh waktu lama untuk memutuskan menikah.

Tiba hari pernikahan Bagas dan Eva. Hingar bingar resepsi kembali digelar. Usai merayakan hari bahagia, Bagas dan Eva menuju kamar pengantin yang telah disiapkan. Di sanalah tempat mereka berdua memadu kasih. Malam itu menjadi malam yang tak akan pernah Bagas lupa. Malam itu adalah malam di mana Bagas melepas keperjakaannya.

Dan bagi Eva, itu bukan malam pertamanya. Saat berusia 16 tahun, ia sudah pernah melepas keperawanannya. Namun itu menjadi rahasia bagi Eva, dan tak akan pernah diungkapnya kepada siapapun selama-lamanya. Sampai di kamar pengantin pun, rahasia itu tetap terjaga. Eva hanya meyakini, bahwa dia bisa kembali perawan karena hanya sekali pernah berhubungan. Itupun sudah sepuluh tahun silam dengan pacarnya. Yang ia tahu, vaginanya akan kembali rapat seperti masih perawan.

“Istriku, aku baru pertama kali melakukan ini. Maaf kalau aku sedikit grogi.”

“Tidak apa-apa Suamiku, aku juga baru pertama kali.”

Dan setelah milik Bagas telah masuk ke milik Eva

“Istriku, tidak keluar darahnya?”

“Kan tidak semua perempuan perawan bisa keluar darah Suam..”

“Oh, iya ya.. aku juga pernah baca tentang hal itu.. Istriku mau lanjut atau sudah?”

“Udahan dulu yuk, sudah tiga kali keluar, Suam nggak capek? Kita tidur yuk, besok bangun aku masakin kamu.”

“Oke, selamat malam istriku tercinta..”

“Malam suamiku..”

………………….

Oleh: Fileski
Lahir di Madiun, Jawa Timur, 21 Februari 1988) adalah penulis, penyair, dan juga musisi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here