MALING

Cerpen: Yuditeha

 

ilustrasi-maling
ilustrasi (ist)

Ini cerita tentang maling. Bukan maling besar semacam koruptor. Kalau cerita tentang koruptor, mungkin kalian sedang jengah-jengahnya menyimak, karena hampir setiap pekan pasti telah memperoleh kisahnya di pemberitaan berbagai media. Ini hanya maling biasa, maling yang bisa beroperasi di tempat dimana kalian tinggal.

Tersebutlah sebuah keluarga dengan tiga anak, dimana kedua orangtuanya baru saja meninggal. Meski dari keluarga melarat tapi orang tuanya masih meninggalkan sebuah rumah beserta tanah pekarangan. Anak pertama bernama Sujar, anak kedua bernama Sujur, dan anak ketiga bernama Sujiat. Ketiganya telah menikah dan mempunyai anak. Baik Sujar maupun Sujur, meski bukan keluarga mampu, tapi keduanya telah berhasil mempunyai rumah sendiri dengan pekerjaan tetap. Sedangkan Sujiat, entah kenapa, tidak pernah punya pekerjaan yang benar-benar bisa menghidupi istri dan kedua anaknya dengan layak. Hidupnya selalu dirundung malang. Nasib yang ada padanya seakan selalu buruk.

Sujiat masih tinggal di rumah peninggalan orangtuanya. Karena sulitnya mencari uang untuk menafkahi keluarganya, dengan terpaksa dia jadi maling, semata agar roda dapur di keluarganya dapat berjalan. Satu, dua kali aksi pencuriannya tertangkap oleh warga hingga akhirnya masyarakat luas mengenalnya sebagai maling. Karena hal itu juga Sujiat sering keluar masuk bui.

Tetapi akhir-akhir ini Sujiat ingin insyaf. Dia merasa tidak nyaman jika menghidupi keluarganya dengan cara maling. Dia ingin berhenti jadi maling. Dia mulai melakukan pekerjaan apa saja yang dirasa tidak merugikan orang lain, dari menarik becak sampai kerja serabutan. Namun usaha untuk menjadi baik itu dia rasa sungguh berat, bukan karena masalah nafkah yang jadi tuntutan harus ada untuk keluarganya, juga bukan masalah kerja keras yang harus dia lakukan, tapi karena sulitnya menghilangkan penilaian masyarakat terhadap dirinya. Masyarakat tetap menganggapnya sebagai maling, meski dirinya sudah menyatakan ingin berhenti jadi maling. Masyarakat seperti tak pernah menganggap kehendak Sujiat itu sungguh-sungguh. Bahkan jika ada salah satu warga yang kemalingan, Sujiat tetap jadi yang pertama kena dakwa.

Lama Sujiat memikirkan hal itu. Dia mencari cara bagaimana jalan keluar yang harus ditempuh untuk mengatasinya. Hingga di suatu malam yang pekat, dia merasa telah menemukan caranya. Esok harinya Sujiat mengundang kedua saudaranya.

“Aku ingin pergi, pindah dari kampung ini,” kata Sujiat pada kedua kakaknya itu.

“Rumah ini?” tanya Sujar.

“Itulah tujuanku memanggil kalian.”

“Gimana rencanamu, Jiat?” tanya Sujur.

“Aku minta tanah dan rumah ini dijual dan hasilnya kita bagi. Bagianku akan kupergunakan bekal pergi,” jawab Sujiat.

“Orangtua kita suruh kau yang menempati,” kata Sujar.

“Aku tahu, tapi aku tidak kerasan di sini, lagipula aku tak punya uang untuk mengganti bagian kalian,” sahut Sujiat.

“Bukankah sebuah kebahagiaan jika bisa melungsur tempat tinggal orangtua?” Sujar menanggapi.

Lalu secara panjang lebar Sujiat mengisahkan apa yang menjadi kemalangan dan kegelisahannya selama ini. Tentang usahanya ingin insyaf yang selalu terganjal oleh anggapan negatif masyarakat. Karena mereka menganggap alasan Sujiat itu masuk akal, kedua kakaknya yang semula keberatan dengan rencana penjualan lahan dan rumah itu merasa prihatin hingga akhirnya menyetujuinya.

Dengan cara menggunakan jasa perantara, penjualan lahan dan rumah itu cepat dan lancar. Mungkin karena kondisi area lahan dan rumah cukup strategis hingga banyak orang yang tertarik. Kini hasil penjualan itu telah dibagi rata. Ada kegairahan hidup di dada Sujiat ketika menerima uang itu, bukan semata dia mendapatkan uang tapi terlebih karena niat mulia yang akan dirintisnya segera tergapai. Rencananya sebagian besar uang itu untuk membeli rumah yang sangat sederhana dan sisanya untuk menopang hidup keluarganya selama dia belum punya pekerjaan pasti. Sujiat melihat harapan baru ada di depan matanya. Hidup nyaman sebagai orang yang berkerja lumrah dengan tanpa adanya anggapan negatif dari warga masyarakatnya.

Untuk mewujudkan hal itu, pertama yang dia pertimbangkan dalam membeli rumah adalah karakter masyarakat di sekitarnya. Dia berusaha mencari tempat dimana warganya pantas untuk dijadikan berlindung. Karena sebelumnya Sujiat telah mendapatkan kesimpulan tentang sikap yang biasanya terjadi di masyarakat pada umumnya. Menurutnya, masyarakat akan cenderung bersikap selaras dengan suara terbanyak, tak peduli suara itu pilihan baik atau buruk. Sesekali dia pernah menemukan orang yang berani menentang arus, tetapi sayangnya hal itu dikarenakan tidak patuh pada aturan masyarakat. Sujiat merasa sulit menemukan orang yang benar-benar berani melawan arus untuk mempertahankan pendirian benarnya.

Hingga suatu hari, Sujiat mendapatkan rumah dijual di daerah yang dia merasa cocok. Terlebih karena sebelumnya dia telah berbincang dengan pak RT daerah itu. Dia menganggap pak RT itu adalah salah satu orang yang berani bersikap melawan arus untuk mempertahankan yang baik dan benar, meski harus berhadapan dengan suara terbanyak sekali pun. Sebelum dia bertemu dengan pak RT itu sudah beberapakali mendengar sepak terjangnya dari beberapa orang yang sempat bertemu dengannya. Dan pertemuan itu semakin menambah keyakinannya. Karena sudah merasa yakin maka proses pembelian rumah berlangsung cepat dan tidak berbelit. Sekarang Sujiat beserta keluarganya telah resmi jadi salah satu warga di sana. Kepada pak RT dia berjanji akan mengundang seluruh bapak-bapak warga RT untuk permisi.

Ada peristiwa yang tak pernah disangka Sujiat. Beberapa warga tempat tinggalnya dulu memberi informasi kepada sebagian warga yang sekarang tentang profesi Sujiat, bahkan ada yang sengaja mendatangi pak RT. Mereka berpesan agar warga berhati-hati dengan harta bendanya. Jangan sampai ada yang lalai lalu kecolongan.

Pak RT yang terkenal pemberani itu tanggap situasi. Sebelum acara pertemuan di rumah Sujiat, pak RT lebih dulu mengundang mereka. Pak RT merasa perlu untuk membekali warganya agar tidak  berburuk sangka terhadap niat baik seseorang. Semua warga diminta untuk selalu berpikir positif. Setelah semua warga mendapatkan pengarahan, yang semula merasa ragu dengan Sujiat akhirnya bisa legawa menerimanya. Meski semula ada beberpa warga yang tidak suka namun akhirnya menerimanya. Sujiat akhirnya menjadi bagian dari warga itu, yang memang sepantasnya untuk dibantu niat baiknya dan jika perlu memberi bantuan agar apa yang diharapkan dapat berjalan lancar. Dari sanalah kemudian ada pak Sudibyo, salah satu warga yang berprofesi sebagai pengembang bidang properti menawarinya kerja sebagai buruh bangunan. Lengkap sudah kebahagiaan Sujiat.

Waktu berjalan seperti tak ada masalah lagi. Sujiat sudah mulai menikmati hidup lumrah dengan suka cita. Istri dan kedua anaknya juga merasakan kebahagiaan karena mereka dapat merasa hidup yang sebenarnya hidup. Lepas dari rong-rongan yang selama ini menyudutkannya. Kedamaian telah bersemanyam dalam keluarga itu sampai di suatu malam yang pekat, kedamaian itu tiba-tiba seperti menguap begitu saja.

Malam yang pekat itu Sujiat digelandang oleh beberapa orang. Tubuhnya diikat pada sebuah pohon di halaman rumahnya. Istri dan kedua anaknya hanya bisa melihat kejadian itu. Hampir seluruh warga RT telah berkumpul di sana. Mereka mengeluarkan sumpah serapah pada Sujiat. Segala jenis kata kotor seperti mudah saja tertumpah dari mulut mereka. Bahkan yang mengejutkan, ternyata pak RT juga ada di sana, bahkan justru teriakan pak RT paling keras terdengar.

“Orang tak tahu diri! Sudah kupercaya tapi nyatanya masih saja maling!” kata pak RT.

Mendengar kata dari pak RT begitu, sikap warga semakin  garang.

“Dulu, aku yang pertama mempercayai, kini aku juga yang pertama mengutukmu!” kata pak RT lagi.

Warga semakin beringas. Kericuhan tak terkendali lagi. Kebrutalan akhirnya terjadi. Main hakim sendiri dianggap jalan keluar yang wajar. Sujiat dihajar warga. Tak ada yang tidak membantai. Sujiat roboh. Sujiat mati. Tangis istri dan kedua anaknya sebagai pengiring kepiluan malam pekat itu.

Usut punya usut, bagaimana sampai bisa terjadi peristiwa pembantaian itu. Malam pekat itu ada maling di rumah pak Sudibyo yang kosong karena ditinggal pergi ke luar kota. Ada warga yang melihat aksi pencurian itu dan langsung memberi tanda kenthongan pada seluruh warga. Entah bagaimana ceritanya, saat itu Sujiat seperti terlihat keluar dari rumah pak Sudibyo. Begitu warga mengetahui hal itu langsung menangkap dan membantainya. Setelah aksi brutal itu pak RT diamankan polisi.

Dua hari kemudian, beberapa polisi datang ke kampung. Mereka ingin mengusut kisah tragis tewasnya Sujiat malam itu. Pak polisi menyerahkan surat panggilan untuk beberapa orang guna melakukan pemeriksaan. Selain itu mereka juga mengabarkan bahwa yang melakukan pencurian bukan Sujiat. Maling itu kini sudah tertangkap dan saat ini telah mendekam di bui.

***

Mungkin istri dan kedua anaknya menyadari bahwa dendam tak akan pernah menyelesaikan masalah, karenanya ketika mereka mengadakan doa tujuh hari untuk Sujiat, mereka dengan tulus mengundang seluruh warga RT. Tapi pada saat acara itu diadakan, hampir seluruh warga tak mendatanginya. Ketidakhadiran mereka bukan karena mereka tidak suka atau alasan lain yang bersifat buruk tapi karena alasan malu. Malu terhadap perilaku mereka sendiri. Tapi ada beberapa orang yang tetap memberanikan diri datang. Satu diantara mereka adalah pak Sudibyo yang ternyata sudah kembali dari bepergian. Orang yang tidak banyak bicara, orang yang telah membantu Sujiat, dan orang yang malam itu rumahnya kemalingan.♦

 

Yuditeha, Warga Jaten, Karanganyar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here