Puisi-puisi Maisyaroh El-Shoby*

Syahadat Cinta

 

Aku tak begitu yakin

Doa malaikat mengamini cinta yang jauh

Dalam remang tak terbaca

Membajak buih di samudera

Dihempas angin, lalu sirna

Sering kali mencintai, lalu berakhir sepi

 

Aku percaya

Tuhan membacakan doa-doa manusia

Dan matahari kembali

Dengan doa Tuhan yang kuasa

Menjadikan cinta dalam roh kita

Dan aku bahagia

Sering kali kita menjamah puisi

 

Di malam itu, kita menyaksikan

Jibril mendoakan pernikahan kita

Di depan para orang tua dan pemuda

Oh, rindu telah terbaca oleh wajah manusia

Sujud dalam shalat

Menjadikan imam dalam akhiratku

 

Tarate, 2016

 

Tentang Sebuah Rindu

 

Zen, aku baru saja bercanda dengan mimpi

Yang mengajakku kembali pada rindu

Dan meninggalkan ketidakdewasaanku

Kalau kau tahu

Rindu ini telah melahirkan anak kita

Aku telah bosan bersandiwara

 

Kekasih,

Rumah kita kecil

Tapi cukup untuk menjamah matahari

Kelak, bila engkau telah kembali

Aku ingin berbicara tentang puisi

Kepadamu, kutulis langit di balik nurani

 

Sumenep, 14 Juni 2016

 

Hari itu

 

Sedikit rindu bukan?

Jika aku melepas diri dan berbicara tentangmu

Sedikit rindu bukan?

Bila terkadang aku memejamkan mata

Lalu tersenyum mengiringi sepi

Sambil kusebut namamu tanpa henti

 

Aku berharap kau datang

Merayakan hari kemenangan

Kita akan kembali menyeduh aroma kopi

Meleburkan sepi, pada suatu hari nanti

 

Sumenep, 20 Juni 2016

 

Tak Ada Lagi

 

Menurutmu, apa aku terlalu egois

Menentang langit karena ketidaksanggupanku

Berlayar terlalu dalam

Ia telah tiada menyisakan rindu dan siksa

Aku sering kali menjamak puisi

Dengan kata-kataku sendiri

Tapi aku terlempar ke kejauhan

Tak seperti anak sendiri

Aku rindu kau, menyepi dengan keluarga tuhan

 

Sumenep, 13 Juni 2016

 

Isyarat Doa untuk Mereka

 

Di musim yang lain

Saat matahari menerjemahkan ilalang

Menjadi lentera bagi belantara

Di saat berganti gelap memuja para penduduk

Ke dalam rahim-rahim waktu

Sehingga aku terpanggil di setiap waktu

Dan menjadikanku sebagai hamba

Di persimpangan jalan

Mungkin sebuah tuntutan atau sekedar kata-kata

Di saat matahari kembali pada rindu

Sekejap aku memejamkan mata

Lalu kembali menatap langit

;Aku telah kehilangan masa laluku

Tentang puisi serta bahasa mereka yang biru

 

Sumenep, 2016

 

Potret Indonesia Kita

 

Adalah aku mencari angin

Dimana arah menebus luka

Kemana jiwa membahas petuah

Sebuah senyum yang tersungging

Kembali kepada hening

 

Sebuah dosa jika tuhan tak memberi ampun

Hanya menciptakan bahasa luka dan sepi

Tak pantas luka ini terobati

Lantas kemarin tertawa bersama

 

Ya, itu sebuah gelisah rindu

Permainan kita di masa lalu

 

Pa’-opa’ iling, ilingnga sakoranjang

Pel oto’ pel ghedeng

Sapa rea!

 

Riuh tawa melepas dahaga

Adalah cirri Indonesia

Kemanakah ketenangan kita?

 

 Sumenep, 7 Agustus 2016

 

*) Lahir pada 18 Juli 1997 di Pasongsongan Sumenep. Mahaasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni (STITA). Saat ini, nyantri di PP. Aqidah Usymuni Tarate Pandian Sumenep. Juga aktif bergiat di LSA (Lesehan Sastra Aqidah Usymui) dan UKM Komunitas Pelar STITA Sumenep.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here