Terjebak dalam Dunianya Sendiri

Dalam novel ‘Membungkam Malam Menanti Fajar’, salat merupakan tiang agama yang bersifat wajib. Pada hari akhir, ibadah salatlah yang akan dihisab pertama kali.  Hanya saja saat ini, banyak orang yang  mulai malas melakukan salat. Ada banyak alasan yang sering diungkapkan. Orang mulai terlena , lupa akan peradaban Islam.  Namun haruskah kelalaian itu akan terus dipelihara ataukah kelalaian harus dihilangkan ?

Novel ini mengisahkan tentang seorang remaja bernama  Fajar Nur Zaman. Sebelum dia mengenal musik Mp3, Fajar adalah remaja yang selalu rajin  salat berjamaah dan selalu ikut kajian Islam di berbagai kegiatan yang ada, di masjid Kampung Bunga Rampai. Dia sangat senang berkumpul dengan masyarakat di kampungnya, juga gemar pergi ke toko buku Jeehan’s Shop demi membeli buku untuk keperluan ujian ataupun untuk sekadar membeli novel saja, yang sering dibaca oleh Fajar adalah buku sejarah. Entah, tapi semua berubah ketika dia mulai mendengarkan musik Mp3.

Terjebak dalam Dunianya Sendiri
Judul : Membungkam Malam Menanti Fajar Penulis : Fenni Wardhiati Penerbit : De Teens Cetakan : Pertama, September 2016 Halaman : 204 hlm ISBN : 978-602-391-233-9 Harga : Rp. 40.000 Peresensi : Syahlulya Lully Elanda (Prodi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia / 1-C Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang)

Fajar menjadi malas beribadah, tidak salat berjamaah dan tidak ikut kajian lagi.  Sehari-hari Fajar lebih suka menghabiskan waktu mendengarkan musik dengan earphone di telinga.  Atau berburu lagu baru untuk menambah koleksinya. Kebiasaan Fajar sudah susah dihilangkan sampai dibawa ke bangku perkuliahan,

Fajar tidak mau mendengarkan nasihat orangtua dan teman-temannya. Lagi pula dosa kan ditanggung masing-masing. Jadi kenapa harus bingung ketika tidak beribadah? (hal 113) begitulah pendapat Fajar. Waktu pun berlalu dengan kebiasaan baru Fajar, yaitu mendengarkan musik MP3. Semakin hari dia semakin tidak bisa memanfaatkan waktunya dengan baik. Akibat dari perbuatan cerobohnya,  nilai ujian sekolah Fajar anjlok. Risikonya dia harus kena marah orangtua, sekarang dia bersikukuh untuk lebih memperhatikan pelajaran dan tidak lagi mengikuti acara di Masjid kampungnya karena dia ingin fokus membenahi nilainya yang sudah anjlok.

Kehidupan Fajar yang lalai akan ibadah salat, kisah cinta dan persahabatan, juga sebuah mitos tentang waduk  yang berada di Kampung Bunga Rampai yang surut hanya dalam waktu beberapa jam saja. Mitos waduk itu semakin membuat para warga kampung penasaran sampai akhirnya ada salah satu warga bernama Maksim. Ia menemukan sesuatu yang menyilaukan mata, seperti batu pada waduk Kampung Bunga Rampai. Ustadz Ian juga mengetahui tentang batu yang ditemukan oleh Maksim, beliau juga mengatakan, “Apakah ini suatu pertanda?”  Warga Kampung mempercayai bahwa mitos waduk itu diakibatkan  adanya seseorang yang lupa akan salat, tetapi warga hanya mempercayai sebagai mitos saja.

Cerita dalam novel ini unik. Halaman buku sangat menarik karena terdapat gambar yang membuat pembaca tidak mudah bosan.  Hanya saja ada sepenggal cerita yang menggantung, sehingga cerita terasa kurang fokus karena terlalu banyak masalah yang dipaparkan. Selepas dari itu, novel ini tetap menarik untuk dibaca. Ditambah dengan  hadist Al-Quran yang memperkuat kesan keislaman.

Novel ini juga banyak mengandung unsur lucu, sehingga membuat para pembaca tertawa saat membaca dan terbawa akan ceritanya . Ada banyak nasihat dan pengetahuan baru yang bisa didapat dari novel ini.  Seperti anjuran untuk  selalu bersabar, tidak suka memfitnah, menjaga pandangan dari orang yang bukan mahram, saling memafkan, membantu dan berbuah baik pada sesama serta banyak lagi.  Dan juga memanfaatkan waktu dengan baik.

Di sini juga bertebaran kata-kata yang  inspiratif. Salah satunya adalah,  “Taatlah kepada Allah dan taaatlah kepada Rasul, dan janganlah kamu merusak segala amalmu. Kita  tidak hanya diperintahkan untuk taat saja, tetapi juga menjaga amal. Jangan sampai karena hal buruk, merusak bahkan bisa jadi menghapus semua amal.” (hal. 185).

Setiap orang harus selalu hati-hati. Dalam melakukan sesuatu harus memikirkan terlebih dahulu dampak apa yang terjadi ketika melakukan hal yang salah. Memang siapa saja boleh mendengarkan musik Mp3 atau menyukai berbagai hal-hal baru, tapi harus dalam batasan tidak seenaknya saja sampai lupa waktu salat. Namun jangan sampai hal-hal baru itu merusak atau membuat kita lalai dari kewajiban yang harus  ditegakkan dan wajib dijalani. Apalagi sampai lupa meninggalkan salat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here