Minimnya Fasilitas Pendidikan di Daerah Pedalaman Madura

Dianatur Raviqah, Mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang.

Pulau Madura secara geografis sangat strategis berada di antara Laut Jawa dan Selat Madura yang menyimpan banyak potensi. Pulau yang dikenal sebagai Pulau Garam ini terletak di timur laut pulau Jawa yang terdiri dari beberapa pulau besar dan kecil. Madura terdiri dari empat Kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.  Madura adalah pulau terbesar yang dikelilingi oleh pulau-pulau yang lebih kecil, seperti Puteran, Sapudi, Raas, Kangean, Sapeken dan pulau-pulau lain yang lebih kecil yang jumlahnya lebih dari 100, baik yang berpenghuni maupun yang tidak. Kebanyakan pulau-pulau kecil ini berada di kawasan timur, yaitu di Kabupaten Sumenep.

Pendidikan sangat berpengaruh terhadap kemajuan suatu daerah karena pendidikan mencetak sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas baik dari segi spiritual, intelegensi, dan skill. Jika terdapat sumber daya manusia (SDM) yang kreatif dan memiliki tingkat pendidikan yang optimal, maka akan dapat mengurangi kemiskinan karena dengan pendidikan dapat meningkatan kesempatan kerja, mengurangi ketimpangan pendapatan dan kesejahteraan serta produktivitas kelompok miskin.

Pendidikan yang optimal sangat didukung oleh ketersediaan fasilitas pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertengahan (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Masyarakat yang telah menempuh pendidikan sampai jenjang SMA tentu akan memiliki pemikiran dan pertimbangan yang lebih cermat dan akurat dalam melakukan berbagai pekerjaan di segala bidang. Oleh karena itu, dibutuhkan jumlah SMA yang memadai untuk dapat menampung jumlah masyarakat yang semakin meningkat.

Sedangkan pendidikan di Pedalaman Madura tepatnya di daerah kepulauan tidak efektif karena guru-guru yang mengajar di pulau yang berasal dari kota tidak bertanggung jawab dengan muridnya, karena guru tersebut datang hanya pada saat ujian, dan kesehariannya guru yang memberikan materi hanyalah lulusan SMP dan SMA yang ijazahnya juga beli tanpa mempunyai ilmu yang layak diberikan kepada muridnya. Kurangnya tenaga pengajar menambah daftar panjang penderitaan dunia pendidikan di pedalaman. Tenaga pengajar merupakan komponen terpenting yang harus ada di dalam proses belajar-mengajar selain siswa itu sendiri. Tidak jarang saat siswa sudah semangat datang ke sekolah, mereka harus kecewa karena tidak ada guru yang datang. Distribusi guru antara pedalaman dengan perkotaan memang berbanding terbalik, di perkotaan kelebihan tenaga guru, sedangkan di pedalaman tenaga guru masih sangat kurang. Di pedalamanseorang guru harus mengajar dua atau tiga kelas sekaligus. Pada umumnya para guru enggan untuk di tempatkan di daerah pedalaman karena medan yang berat dan gaji yang sering terlambat, serta jauh dari keluarga.

Akibat yang muncul dari kurangnya perhatian pemerintah terhadap kondisi pendidikan di pedalaman adalah tingginya angka anak putus sekolah. Bisa dibilang ini adalah salah satu bentuk kurang suksesnya program wajib belajar 12 tahun. Jauhnya jarak tempuh sekolah, tidak adanya tenaga pengajar dan banyaknya anak-anak yang harus membantu pekerjaan orang tua mereka, itulah sebagian besar faktor penyebab anak-anak putus sekolah.

Pendidikan dan kesuksesan sepertinya sudah menjadi dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan lagi. Seseorang yang mendapat pendidikan yang bagus akan dengan mudah meraih kesuksesan yang tentu saja akan mengantar mereka pada kemakmuran. Teori ini tentu saja berlaku disemua wilayah termasuk di daerah pedalaman. Kurangnya SDM yang berkualitas didaerah pedalaman secara tidak langsung juga menghambat pembangunan wilayah mereka. Dan beberapa orang lebih memilih untuk merantau ke kota-kota besar, karena mereka berfikir hidup diperkotaan akan lebih menjamin kehidupan kita, sehingga kebanyakan orang yang sukses di kota enggan kembali ke kampung halamannya karena mereka beranggapan hidup dikota akan lebih menjamin untuk masa depan keluarganya dari pada mereka kembali ke kampung halamannya. Akibatnya, semakin jauh kesenjanngan yang muncul antara daerah masyarakat kota dengan masyarakat yang berada di pedalaman. Penduduk pedalaman yang mayoritas adalah warga miskin tanpa adanya pendidikan tentu saja akan semakin miskin.

Masyarakat pedalaman yang pada umumnya hanya berpendidikan rendah harus siap bersaing dengan para pendatang yang memilki pemikiran dan pengetahuan yang lebih maju dari mereka. Kekayaan daerah yang harusnya digunakan untuk memakmurkan masyarakat sekitar menjadi di eksploitasi oleh para pendatang. Masyarakat lokal bisa saja menjadi masyarakat kelas dua yang hanya mendapat bagian pada pekerjaan kasar, seperti jadi kuli. Bila hal ini terus didiamkan bisa saja menimbulkan kecemburuan sosial yang akhirnya menyebabkan disintegrasi.

Pemerintah hendaknya mempunyai komitmen untuk mendistribusikan bantuan pendidikan (Imbal Swadaya, Block Grant, dll) kepada sekolah sesuai dengan kuintasi yang dicairkan dan jangan sampai bantuan yang diberikan oleh pemerintah terhenti di tingkat birokrasi. Pemerintah memberikan reward yang menarik agar memotivasi para guru yang profesional untuk dapat mengaar di daerah-daerah terpencil. Selain itu kesejahteraan guru yang mengajar di daerah pedalaman juga harus diperhatikan. Pendirian sekolah satu atap merupakan inisiasi yang baik untuk melakukan pemerataan pendidikan di daerah pedalaman terutama yang berbentuk kepulauan.

Program Sekolah Satu Atap terdiri dari SD dan SMP bahkan SMA, sehingga daerah-daerah kepulauan atau pedalaman yang belum memiliki sekolah tersebut, tidak perlu lagi ke daerah lain untuk mengenyam pendidikan. Sekolah Satu Atap dapat menjadi solusi peningkatan mutu pendidikan, terutama sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan guru, seperti terjadi dibeberapa daerah pedalaman. Selain itu masuknya LSM dan keinginan perseorangan untuk mendirikan sekolah rintisan atau sekedar mengajar membaca, menulis dan menghitung dapat membantu mengatasi masalah pendidikan di daerah pedalaman. Dan seharusnya mereka yang sukses merantau di ibu kota kembali ke kampung halamannya untuk membangun daerah pedalaman tersebut sehingga menjadi lebih baik.

Oleh : Dianatur Raviqah *)

*) Mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here