Pantai Konang

Miqdad Husein*

Pantai Konang mungkin tak cukup populer sebagai tujuan wisata walau tempatnya relatif dekat dari jalan raya utama, Kabupaten Trenggalek-Pacitan. Dari segi lokasi memang  lebih beruntung dibanding Pantai Lombang, di Sumenep, yang praktis sangat jauh dari perkotaan. Tapi, bukan itu yang membuat Pantai Konang, istimewa.

Terletak di Kabupaten Trenggalek, Pantai Konang dari segi fisik tergolong kawasan wisata laut relatif biasa saja. Satu-satunya keistimewaan fisik, Pantai Konang, seperti muara air laut yang masuk ke sela perbukitan sehingga tergambar selintas seperti pantai dikelilingi bukit. Itu juga bukan salah satu yang membuat Pantai Konang, istimewa.

Lalu apa, yang membuat pantai dengan garis pantai tak terlalu panjang menjadi menarik? Ternyata sangat sederhana: kuliner ikan bakar. Masyarakat tergoda datang karena tawaran ikan bakar, udang dan kekayaan laut lainnya. Semua tersedia melimpah ruah dengan harga tergolong sangat murah. Begitu murahnya sehingga banyak pembeli menilai harga apapun berkisar serempat dari harga di luar lokasi Pantai Konang.

Ikan salmon bakar, dengan ukuran lebih setengah kilogram hanya dihargai sekitar 25 sampai 30 ribu rupiah. Ikan cakalan jauh lebih murah lagi. Harga udang kurang dari separuh dari  yang terjaja di pasaran. Itu juga ternyata bukan satu-satunya yang tergolong spesial, dari Pantai Konang.

Yang spesial lainnya adalah ternyata berbagai bahan makanan pemanja selera itu bukan hasil laut Kabupaten Trenggalek. Hampir seluruh bahan baku yang dijual berasal dari hasil pantai Pacitan, tetangga Trenggalek. Ini memberi gambaran riil bahwa segala hal terkait kuliner sebagai penarik minat pengunjung lebih merupakan “event” yang dirancang dan disiapkan. Sebuah langkah cerdas memaksimalkan sebuah kawasan dari biasa saja menjadi sangat luar biasa.

“Mengandalkan ikan dari sini, ngak bisa pak. Hasil dari ikan di Pantai Konang, rata-rata kecil sehingga kurang memadai untuk dijajakan di sini,” kata seorang penjual. Lagi-lagi menegaskan betapa mereka memang sangat terencana memoles Pantai Konang, yang biasa saja menjadi penuh daya pikat melalui penyediaan kuliner.

Ketajaman memanfaatkan peluang masyarakat di Pantai Konang ini layak mendapat acungan jempol. Mereka menyadari kekurangan Pantai Konang sebagai daya tarik wisata jauh dari memadai. Karena itu diupayakan dan diciptakan daya tarik lain yang dapat mengundang minat masyarakat untuk datang berkunjung. Kekecewaan masyarakat yang mungkin tak puas bila sekedar menikmati keindahan Pantai Konang, akan tergantikan pelayanan dan ketersediaan kuliner kekayaan laut. Bahkan bisa jadi, masyarakat nantinya akan berbalik lagi, itu tadi, karena kuliner dan bukan faktor Pantai Konang.

Di sini lagi-lagi tercipta bukan lagi sekedar keinginan berwisata yang bisa jadi hanya sesekali. Secara tak langsung kehadiran masyarakat dikondisikan menjadi lebih sering hadir di Pantai Konang melalui wisata kuliner; sesuatu yang menjadi kebutuhan keseharian. Artinya, sangat mungkin masyarakat datang lebih dari keinginan berwisata tapi bergairah menikmati kuliner sebagai kebutuhan rutin.

Di Madura, hampir bisa dipastikan sangat banyak obyek wisata sangat indah. Pantai Lombang, Sumenep, mungkin salah satu contoh paling mudah diingat. Tidak ada yang meragukan keindahan Pantai Lombang. Namun karena dibiarkan statis tanpa pengelolaan berarti keindahan yang sebenarnya mempesona itu mudah dilupakan. Masyarakat hanya sesekali saja datang. Itupun tidak mudah menjadi viral dalam pemberitaan.

Juga, banyak pantai di Madura, yang berdekatan dengan nelayan penghasil ikan. Tapi, sangat jarang –untuk tidak menyebut tak ada- wisata kuliner ikan bakar seperti di Pantai Konang. Ironis, sebuah kawasan  tergolong kaya aneka jenis ikan, sangat sulit menemukan wisata kuliner ikan seperti daerah lainnya.

Dibanding pantai-pantai di kawasan Bali misalnya, Pantai Lombang dan beberapa pantai lain di Madura jelas tidak kalah dari segi keindahannya. Sanur, Kuta tak berbeda jauh dengan Pantai Lombang. Pantai di Kabupaten Sumenep ini bahkan memiliki keunikan adanya cemara udang, yang tumbuh pada sepanjang garis pantai; sesuatu yang sangat jarang dimiliki pantai-pantai di negeri ini.

Yang membedakan sangat jelas. Ada event-event budaya tradisional di Bali sehingga mengundang minat para wisatawan. Dan event budaya tidak harus muncul dari tradisi. Event budaya bisa diciptakan seperti wisata kuliner di Pantai Konang, Karnaval tahunan di Jember dan masih banyak lagi, yang bisa dikreasikan supaya obyek wisata tidak statis, tidak dibiarkan tanpa pengelolaan berarti.

Begitulah. Hidup itu dinamis. Mereka yang statis akan tertinggal dan tentu saja, tidak akan kebagian. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here