Pilkada Jelang Tahun Politik

Politisi dan tokoh asal Kabupaten Sumenep, MH. Said Abdullah.

Sebagaimana tahun 2017 lalu, pada tahun 2018 yang baru saja diawali juga akan diwarnai pelaksanaan Pilkada serentak. Jumlah daerah yang melaksanakan lebih banyak dari tahun lalu. Ada  115 kabupaten, 39 Kota dan 17 Provinsi yang melaksanakan hajat lima tahunan itu. Jauh lebih banyak dibanding Pilkada tahun 2017 yang hanya 101 daerah.

Mengingat kedekatan pelaksanaan Pilkada serentak 2018 dengan hajat politik lebih besar di negeri ini pada tahun 2019 yaitu Pemilihan Presiden dan Pemilu Legislatif secara kalkulasi politik potensi dinamika politik kemungkinan lebih tinggi. Setiap partai politik ingin meraih kemenangan tidak hanya atas dasar kepentingan lokal dan regional tetapi jauh lebih luas lagi menyangkut kemenangan peran strategis dalam konstelasi politik di tahun 2019.

Kondisi ini sudah pasti menyuntikkan semangat persaingan pada seluruh partai politik. Mereka akan terpacu karena secara kalkulasi politik keberhasilan dalam Pilkada 2018 akan memberikan pengaruh signifikan pada berbagai momen politik tahun 2019.

Di sini penting seluruh partai politik belajar dari pengalaman Pilkada 2017 terutama terkait pelaksanaan Pilkada Jakarta, yang sempat membuat atmosfir politik cukup menghawatirkan. Jangan sampai kejadian yang sempat memecah kebersamaan anak bangsa dalam Pilkada Jakarta terjadi lagi. Terlalu besar resiko yang akan terjadi bila kejadian seperti di Pilkada Jakarta terulang dalam Pilkada 2018. Dampaknya akan jauh lebih dasyat karena lagi-lagi terkait momen politik nasional lima tahunan pada tahun 2019.

Jika dinamika Pilkada serentak tahun 2018 dapat berjalan baik diyakini negeri ini akan mampu melewati perhelatan politik besar pada tahun 2019. Sebaliknya jika kejadian hingar bingar Pilkada Jakarta kembali terjadi bukan hal luar biasa bila seluruh rakyat harus bekerja ekstra keras mengamankan pelaksanaan momen politik di tahun 2019.

Karena itu seluruh partai politik, potensi bangsa Indonesia, perlu belajar dari pengalaman Pilkada Jakarta dengan mengedepankan; pertama, kesadaran menjaga keanekaragaman kultural luar biasa di negeri ini. Bahwa Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke memiliki keragaman luar biasa dalam berbagai hal. Ini bisa menjadi potensi luar biasa bila dikelola secara baik. Namun, bila rasa syukur dan kebanggaan akan keanekaragaman dibuang jauh, diganti dengan mengedepankan semata syahwat politik sesaat, bukan hal luar biasa bila keindahan berubah menjadi malapetaka menyakitkan. Belajar dari negara yang sampai saat ini bergelut dalam konflik berkepanjangan, seperti di kawasan Timur Tengah yang membuat rakyat menderita, penting dijadikan referensi sikap politik seluruh rakyat negeri ini.

Kesadaran menjaga keanekaragaman ini perlu dikembangkan melalui kearifan politik untuk tidak mengeksploitasi menjadi konflik atas dasar perbedaan pilihan politik. Semangat ingin mendapat amanah kepercayaan rakyat dikembangkan atas dasar konsepsi visi misi terbaik yang disosialisakan kepada rakyat pemilih. Dengan demikian rakyat mendapat gambaran pilihan tanpa harus terjebak dalam sikap permusuhan dan ketegangan. Yang lebih mengemuka semangat bersanding mencari yang terbaik dan bukan sikap saling memusuhi hanya karena perbedaan pilihan politik.

Kedua,  perlu lebih sungguh dikembangkan perilaku politik bermoral serta mampu meningkatkan kecerdasaan politik masyarakat. Sudah waktunya di era media sosial ini masyarakat mendapat informasi obyektif yang membuka wawasan agar tumbuh kedewasaan dan kecerdasan pilihan sehingga siapapun yang mendapat kepercayaan mampu membawa bangsa ini khususnya masyarakat daerah menjadi lebih baik.

Ketiga, perlu ada sikap legawa dan kearifan politik dalam mensosialisasikan moral politik bernuansa keagamaan. Ini penting diingatkan karena membawa agama dalam wilayah politik jika sekedar hanya simbol atau aksesori yang akan merebak bukanlah ketaatan keagamaan tetapi sikap emosional politik yang mudah sekali memunculkan ketegangan. Bukan hanya antar umat beragama yang akan saling bersitegang bahkan di internal umat beragamapun akan mudah terjebak konflik seperti pernah terjadi dalam Pilkada Jakarta “hanya karena perbedaan pilihan politik”.

Dalam masyarakat beragama di negeri ini, memang sulit mencegah pemanfaatan agama dalam wilayah politik. Selalu ada godaan menjadikan agama sebagai amunisi politik. Karena itu penting disadari seluruh komponen politik negeri ini agar membawa agama dalam ke wilayah politik perlu ekstra hati-hati dengan lebih mengedapan nilai-nilai moral agama dan bukan hanya simbol-simbol perbedaan agama.

Jika nilai-nilai dan subtansi agama yang dikedepankan seperti upaya pengentasan kemiskinan, penegakan keadilan, pencerdasan masyarakat, diyakini akan mempermudah titik temu hubungan antar internal umat beragama dan bahkan antara umat beragama. Akan terjadi sinergi obyektif untuk bersama-sama membangun bangsa Indonesia menjadi lebih baik.

Marilah memulai langkah di tahun 2018 ini dengan lebih sungguh-sungguh berupaya menabur kecerdasakan, kearifan serta kedewasaan politik. Marilah menjadikan nilai-nilai agama sebagai pengikat kebersamaan anak bangsa untuk mewujudkan Indonesia Hebat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here