Ratusan Kitab Kuno Dilaminasi

Petugas Perpustakaan Nasional sedang melakukan tahapan laminasi kitab kuno di Ponpes Azzubair, Sumberanyar, Pamekasan, Jawa Timur, Selasa, 13 Maret 2018. Program laminasi itu dilakukan untuk menyelamatkan naskah kuno yang berusia sekitar setengah abad tersebut. (g.mujtaba)

PAMEKASAN, koranmadura.com – Perpustakaan Nasional Kemenag RI melakukan upaya penyelamatan naskah kuno dengan cara laminasi di Perpustakaan Raden Umro Ponpes Azzubair, Sumberanyar, Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Selasa, 13 Maret 2018. Program laminasi itu dimaksudkan untuk menyelamatkan fisik kitab kuno beserta isinya.

Koordinator preservasi Perpustakaan Nasional Kemenag, Haris Riyadi mengatakan dalam program laminasi tersebut terlebih dahulu dilakukan deasidifikasi berupa penghilangan keasaman pada kertas menggunakan bahan kimia tertentu.

Selanjutnya, jelas Haris, dilakukan laminasi menggunakan tisu khusus yang ditempel di permukaan naskah. Tisu yang digunakan itu merupakan tisu impor yang bentuknya transparan sehingga selain bisa melindungi fisik naskah dari kerusakan, juga tidak akan menghilangkan naskah.

“Tulisannya masih bisa dibaca. Begitupula dengan watermark yang ada di dalam kertas yang menjadi ciri dan penanda tahun penggunaan,” katanya.

Langkah terakhir dari program tersebut adalah penjilidan ulang dan menyalin ke format buku elektronik. Penjilidan dilakukan dengan cara membuat sampul baru dengan tidak menghilangkan sampul asli, sehingga keaslian naskah kuno itu tetap terpelihara.

“Sedangkan penyalinan ke buku elektronik, dilakukan dengan program khusus untuk menjaga kelestarian naskah. Sehingga, siapa pun bisa membaca naskah kuno tersebut,” katanya.

Ada sekitar 133 kitab yang terdiri dari 520 naskah yang masuk dalam program tersebut. Kitab kuno itu, semuanya menggunakan kertas daluwang dan kertas Eropa dengan tulisan tangan. Diperkirakan usia kitab tersebut mencapai 500 tahunan.

Haris menjelaskan, tidak semua naskah kuno dilakukan program laminasi. Namun, terlebih dahulu akan diteliti statusnya sebagai naskah kuno dari perkiraan tahun penulisannya berdasar jenis kertas yang digunakan.

“Yang ada di Perpustakaan Raden Umro ini, diperkirakan usia naskah kunonya mencapai 400 hingga 500 tahunan. Itu dilihat dari kertas daluwang yang digunakan, yang lazim dipakai pada tahun 1.400 masehi,” jelasnya.

Untuk di Madura, pada tahun ini kegiatan penyelamatan itu hanya dilakukan di Sumberanyar, karena selain naskahnya dijamin berusia ratusan tahun, juga memiliki kitab yang lengkap. Hampir semua kajian keilmuan ada di perpustakaan yang didirikan sekelompok pemuda itu.

Di antaranya, terdapat kitab filsafat dan ilmu falak atau astronomi disamping kitab-kitab keagamaan konvensional, seperti fiqih (ilmu tata cara ibadah) dan nahwu (ilmu bahasa).

Pengelola Perpustakaan Raden Umro, Habibullah Bahwi mengatakan kitab yang disimpan di perpustakaan itu merupakan peninggalan Raden Sukriwa, generasi keempat dari Kiai Agung Zubari, pendiri Ponpes Azzubair.

Ratusan kitab kuno tersebut, jelas Habib, dikumpulkan selama hampir setahun dari beberapa tempat yang masih keturunan Raden Sukriwa. “Makanya, di katalog, selain identitas kitab, kami cantumkan juga tempat kami dapatkan kitab tersebut, misalnya Musala Almuqri, Ponpes Assyahidul Kabir, Sumber Batu Blumbungan,” jelas Habib.

Di antara koleksi kitab kuno itu, terdapat kitab langka seperti kitab Bahrul Lahut karangan Syeikh Abdullah Arif dari Aceh, Tuhfah al Mursalah atau martabat tujuh karya Burhan Burri dan Isanguji yang berisi filsafat Isagot Porpiere dari Yunani.

“Sebelum kegiatan laminasi itu, pada 2012 lalu pernah dilakukan digitalisasi oleh Balitbang Kemenag RI Semarang,” katanya. (G.MUJ/RAH/DIK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here