Meneguhkan Tuhan sebagai Realitas yang Tak Terbantahkan

Judul: Lentera Kehidupan: Panduan Memahami Tuhan, Alam, dan Manusia
Penulis: Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara
Penerbit: Mizan
Cetakan:Pertama, Mei 2017
Tebal: xxviii + 296 Halaman
ISBN: 978-602-441-008-7

Dalam konstelasi khazanah intelektual muslim Indonesia, nama Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara mungkin kurang begitu populer jika dibandingkan dengan nama-nama seperti, Nurcholis Madjid, Gus Dur, Syafi’i Ma’arif, M. Dawam Rahardjo, Djohan Effendy, Quraish Shihab, dan Amien Rais. Tetapi walaupun begitu, kontribusi Prof. Mulyadhi tidak bisa sama sekali dikesampingkan, terutama dalam bidang kajian filsafat dan mistisisme Islam yang menjadi spesialisasinya.

Sebagai seorang intelektual muslim, Prof. Mulyadhi telah banyak menuliskan gagasanya di dalam buku, salah satunya adalah buku yang berjudul “Lentera Kehidupan: Panduan Memahami Tuhan, Alam, dan Manusia” ini. Tetapi, sebagai salah seorang intelektual muslim ‘jebolan’ Barat, boleh jadi sebagian orang sudah memiliki dugaan macam-macam tentang tokoh ini, misalnya saja tentang tuduhan liberal ataupun sekuler. Anggapan-anggapan semacam itu terbantahkan setelah membaca karyanya ini. Alih-alih menjadi liberal atau sekuler, membaca buku ini akan mengantarkan kita kepada penguatan iman. Terutama yang berhubungan dengan keimanan kepada Tuhan.

Buku ini di tulis sebagai respon sekaligus buku panduan ditengah-tengah arus modernisasi yang membuka jalan bertemunya berbagai macam aliran dan isme-isme yang terkadang bertentangan dengan agama. Terutama isme-isme yang datang dari Barat, seperti Materialisme, Naturalisme, Positivisme, Atheisme, Deisme, dan Agnotisisme (hal. xvii).

Untuk itu, Prof. Mulyadhi sebagai guru besar bidang Filsafat dan Mistisime Islam mengkritisi berbagai aliran filsafat Barat seperti disebutkan di atas yang cenderung meragukan eksistensi Tuhan dengan semangat tradisi intelektual, ilmiah, spiritual, dan religius Islam dan menggunakan referensi yang bersumber dari tradisi religius dan mistik Islam tetapi tetap dengan penyajian yang rasional, sistematik, ilmiah, yang kesemuanya itu sesuai dengan tuntutan orang-orang di zaman modern ini.

Sebagai contoh misalnya, ketika mengkritisi aliran filsafat Barat yang meragukan keberadaan Tuhan, Prof. Mulyadhi memberikan tiga argumen sekaligus: Kosmologis, Ontologis, dan Teleologis. Argumen kosmologis berarti berkaitan dengan kosmos (alam). Argumen kosmologis adalah argumen tentang keberadaan Tuhan dengan cara merenungkan apa yang terjadi di alam semesta. Dalam pandangan para filsuf Yunani maupun muslim, apapun yang terjadi di alam ini tidak bisa terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui sebab (hal. 16).

Selain itu ada argumen ontologis yang ditawarkan oleh Ibnu Sina. Berbeda dengan argumen kosmologis yang menjadikan fenomena alam sebagai titik beranjaknya, argumen ontologis menjadikan wujud itu sendiri sebagai basis argumenya. Ibnu Sina merujuk kepada sebuah Wujud Niscaya, yang harus selalu ada, baik pada masa lalu, kini, maupun pada masa yang akan datang (hal. 20).

Argumen yang terakhir adalah argumen teleologis. Argumen ini menyatakan bahwa alam dicipta dengan tujuan tertentu, bukan secara kebetulan ataupun random. Ada design (rancangan) dalam penciptaan ini untuk mencapai sebuah tujuan tertentu. Pandangan ini cocok dengan ajaran Islam yang mengatakan bahwa, “langit dan bumi dicipta dengan tujuan tertentu” (QS. 6: 73). Dengan demikian, melalui argumen rancangan dan tujuan para pemikir muslim baik sufi maupun filsuf telah memberi bukti tentang keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, kesimpulannya adalah bahwa semua fasilitas serta keserasian alam yang dapat kita saksikan ini merupakan bukti yang kuat akan adanya  Pencipta dan Perancang  yang kita sebut Tuhan (hal. 29). Jika dilihat secara seksama, ketiga teori tersebut memang memiliki perbedaan secara detail, walaupun begitu, ketiga teori ini saling menguatkan untuk membuktikan keberadaan Tuhan di alam semesta ini.

Keberhasilan dunia Muslim untuk tidak goyah dalam mempertahankan fondasi keberagamaannya tak lepas dari kegigihan para ulama dan juga cendekiawannya untuk terus berada di garda terdepan dalam menyaring paham-paham asing, seperti yang telah dilakukan Prof. Mulyadhi dalam karyanya ini.

Tetapi satu kekurangan yang barangkali perlu diperhatikan dalam karya ini yaitu dalam hal penyajiannya yang cenderung ilmiah seperti halnya karya akademik, dimana tidak semua orang dapat menangkap isi bahasan bukunya. Oleh karena itu, sebagai sebuah buku panduan, seharusnya metode penyajiannya dibuat lebih cair agar bisa dipahami oleh semua kalangan masyarakat. Meski demikian, sekali lagi, melalui karya ini Prof. Mulyadhi telah memberikan sumbangan yang berharga, utamanya untuk membentengi generasi Muslim dalam mengarungi hidup di era modern yang penuh dengan benturan antar pemikiran ini. (*)

*Bakhtiar Yusuf, Mahasiswa Magister Hukum Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here