Penyebab dan Dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian di Sekitar Kampus UTM

Madura merupakan salah-satu daerah yang berada di dekat pulau Jawa dan mempunyai ciri khas dengan tanah yang tandus atau tanah kapur. Tanah kapur sendiri mempunyai ciri khas yaitu panas dan tidak begitu subur. Sehingga, tanah di pulau Madura tidak cocok untuk dijadikan lahan pertanian layaknya di daerah pegunungan atau daerah lainnya yang berada di Indonesia.

Masyarakat yang berdomisili di Pulau Madura, mempunyai pekerjaan sebagai buruh, baik itu buruh pabrik maupun buruh tani. Namun, mayoritas penduduknya mempunyai pekerjaan sebagai TKI/TKW dan merantau di luar pulau. Pertanian di pulau Madura mempunyai banyak varietas dan komoditas. Diantaranya yakni padi, jagung, tebu, tembakau dan masih banyak lainnya.

Kamal merupakan suatu kecamatan yang ada di kabupaten Bangkalan yang mempunyai tingkat penduduk yang besar. Namun, masyarakat yang tinggal di sana kebanyakan adalah orang-orang yang bertempat tinggal sementara baik dikarena pekerjaan maupun mahasiswa. Salah-satunya di desa Telang yang terdapat perguruan tinggi negeri yaitu Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan mayoritas hampir 80 persen penduduknya adalah mahasiswa yang bertempat tinggal di daerah tersebut dan mempunyai tingkat kependudukan yang semakin bertambah setiap tahunnya.

Lahan pertanian di sekitar kampus terdapat lahan-lahan pertanian yang terbengkalai dan tidak terawat. Sehingga, menyebabkan banyaknya lahan yang terbengkalai seperti tergenang air di saat hujan dan kering di saat bulan kemarau. Hal itu terjadi secara berangsur-angsur selama bertahun-tahun.

Lahan pertanian yang berada di sekitar kampus kurang lebih 1 km dari kampus pada saat ini sudah menjadi pemukiman yang awalnya hanya beberapa namun, pada tahun 2018 saat ini bisa kita lihat bahwasannya dari arah kampus menuju pertigaan SMAN 1 Kamal sudah terdapat bangunan-bangunan yang sudah berdiri kokoh di sana. Baik bangunan yang masih baru maupun bangunan yang sudah lama.

Pembangunan itu dilakukan oleh pemilik tanah yang biasanya bertempat tinggal jauh dari daerah tersebut. Sehingga, pemilik tanah lebih memilih membangun untuk dijadikan tempat usaha baik itu untuk kos-kosan, pedagang kaki lima (PKL), dan Cafe dibandingkan untuk dijadikan lahan pertanian.

Alih fungsi lahan pertanian terjadi di daerah tersebut dari lahan yang tidak terbengkalai menjadi tempat kos-kosan mahasiswa dan juga cafe sebagai tempat nongkrong mahasiswa di UTM yang dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor eksternal maupun faktor internal.

Faktor demografi atau kependudukan merupakan salah-satu faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan. Pertambahan jumlah mahasiswa di UTM mengakibatkan terjadinya peningkatan jumlah permintaan pada lahan untuk dijadikan kos-kosan dan cafe. Dikarenakan terjadinya alih fungsi lahan maka tidak ada proses budidaya yang terjadi di daerah Telang.

Faktor lain seperti ekonomi juga berperan penting dalam hal ini. Para petani yang mempunyai lahan menjadikan tempat usaha dengan cara disewakan baik itu untuk dijadikan cafe, kos-kosan dan PKL yang mana hal itu lebih menguntungkan dari pada bertani dan juga menjual lahannya dikarenakan tekanan ekonomi yang mengharuskan mereka untuk melakukan hal tersebut. Pertambahan zaman di era modern ini membuat para petani muda enggan untuk bertani. Sehingga, menyebabkan petani yang mempunyai lahan menjadi kekurangan tenaga kerja untuk mengolah lahannya.

Dampak dari alih fungsi lahan yang terjadi di daerah kampus UTM menyebabkan lahan pertanian semakin berkurang dan itu menyebabkan kekurangan akan supply bahan baku untuk pangan bagi masyarakat Talang. Apabila itu terjadi secara berangsur-angsur maka membuat akan terjadi krisis pangan yang mengharuskan daerah tersebut untuk mengambil hasil panen dari daerah lain di Indonesia atau melakukan impor untuk memenuhi permintaan. Hal itu akan berakibat kepada harga bahan pangan sehingga bisa terjadi inflansi dan membuat negara mengalami kerugian.

Permasalahan dalam alih fungsi lahan harus dilakukan tindak penanggulangan dari pemerintah daerah untuk segera mengatasinya. Sehingga, lahan yang terbengkalai menjadi produktif. Hal itu juga perlu partisipasi dari masyarkat setempat supaya terealisasikan untuk menjadi desa Telang yang maju dengan hasil pertanian yang melimpah dengan lahan pertanian yang produktif. (*)

*Amilatun Mukhlisyoh, mahasiswi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) jurusan Agribisnis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here