Menu

Rekonsiliasi

Rekonsiliasi
Miqdad Husein. (dok. koranmadura.com)
Oleh: Miqdad Husein
Pasca keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menandai finalnya segala proses normatif Pilpres 2019 merebak wacana rekonsiliasi. Usulan itu diharapkan mencairkan kembali hubungan masyarakat yang sempat terbelah akibat perbedaan dukungan.
Secara itikad -bagi siapapun yang berpikir ‘waras’ akan mendukung langkah mulia itu. Bagaimanapun pilihan hidup tentram, damai, dalam ikatan persaudaraan sebangsa dan setanah air merupakan kehidupan terbaik dalam relasi sosial antar masyarakat.
Memang masih ada segelintir masyarakat belum sepenuhnya move on. Mereka belum legawa menerima kenyataan final proses Pilpres. Namun  mereka agaknya pelan-pelan tenggelam dalam arus kuat yang ingin segera kehidupan kemasyarakatan negeri ini kembali normal tanpa ada lagi sekat-sekat perbedaan.
Pilpres 2019 memang perlu menjadi pembelajaran bagi rakyat negeri ini, termasuk terutama para elite. Suasana kejiwaan masyarakat terseret arus ketegangan perbedaan. Karena itu upaya rekonsiliasi perlu diapresiasi agar ketegangan pasca Pilpres segera mencair.
Penting di sini para elite pemimpin memulai melangkah. Yang pertama memperlihatkan sikap kesediaan menerima proses normatif Pilpres yang sudah tuntas tanpa perlu lagi diembeli berbagai retorika bersayap yang menimbulkan interpretasi liar dari masyarakat akar rumput.
Sikap pasangan nomor urut 02 yang menerima keputusan MK bisa menjadi titik masuk menebarkan kesejukan ke tengah masyarakat. Dan akan makin tersebar kesejukan jika diikuti pula seremoni penyampaian ucapan selamat kepada pasangan 01.
Benar ucapan selamat hanya seremoni yang tak memiliki dampak apapun pada proses normatif. Namun, penyampaian ucapan  dapat menjadi penegasan yang dapat menghentikan merebaknya riak-riak ketakpuasan di masyarakat terutama dari pendukung 02.
Pada sisi lain penyampaian ucapan selamat kepada pemenang dapat menjadi pembelajaran politik bagaimana perbedaan pilihan harus sudah selesai ketika seluruh mekanisme kontestasi sudah tuntas. Masyarakat kembali dalam kehidupan keseharian tanpa lagi dibatasi skat-skat perbedaan pilihan.
Konstestasi Pilpres bukanlah pertarungan politik antar kekuatan yang berbeda perspektif kenegaraan. Pilpres merupakan ajang memilih putra-putra terbaik negeri ini dalam keluarga besar bernama Indonesia. Apapun yang terjadi dalam proses konstestasi Pilpres keseluruhan untuk kepentingan negeri ini.
Karena itu proses rekonsiliasi tak seharusnya disertai berbagai prasyarat yang seakan-akan pasangan 01 dan 02 memiliki perbedaan kepentingan besar dalam berkiprah membangun negeri ini.
Usulan Dahnil Simanjuntak yang mensyaratkan rekonsiliasi menyertakan kepulangan Rizieq Shihab sangat mengada-ada. Seakan Jokowi dan Prabowo  mewakili kepentingan lintas batas antar negara yang terlibat konflik.
Persoalan Rizieq Shihab sejatinya kasus hukum biasa yang penyelesaiannya dapat ditempuh melalui jalur hukum negeri ini. Siapapun yang memimpin negeri ini harus memposisikan kasus Rizieq Shihab seperti kasus hukum lainnya.
Rekonsiliasi pasca Pilpres merupakan ikhtiar mengembalikan suasana ketegangan karena perbedaan pilihan dalam sebuah keluarga besar bernama Indonesia. Bukan untuk mempertemukan dua kekuatan yang berkonflik.

Facebook Comments

Editor:
KOMENTAR

KORAN MADURA # HUT KE-74 RI

PAMANGGI

KORAN MADURA # HUT KE-74 RI

LAPORAN KHUSUS

ADVERTISEMENT




Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional