Oleh : Abrari Alzael*
Révolution Française (1789–1799), periode sosial-radikal dan pergolakan politik di Prancis. Ia berdampak terhadap sejarah Perancis dan Eropa. Monarki absolut yang memerintah selama berabad-abad runtuh. Rakyat Prancis mengalami transformasi sosial politik yang epik. Feodalisme, aristokrasi, dan monarki diruntuhkan. Publik Prancis butuh liberté, égalité, fraternité (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan).
Pada absolutisme, terdapat keluarga kerajaan yang hidup nyaman di Versailles dan terkesan acuh tak acuh terhadap krisis yang semakin meningkat. Faktor penyebab lainnya yang melahirkan Revolusi Perancis adalah kebencian terhadap pemerintah, yang muncul seiring dengan berkembangnya cita-cita pencerahan. Ini termasuk kebencian terhadap absolutisme kerajaan; kebencian oleh masyarakat petani, buruh, dan kaum borjuis terhadap hak-hak istimewa yang dimiliki kaum bangsawan.
Ruang absolutisme ini, secara lambat laun mulai menjelajah kepada pemimpin formal dan informal di republik ini. Penguasa, tokoh agama, dan preman, dapat terindera dengan jelas perselingkuhannya di garis politik. Ketga anasir dalam lintasan yang berbeda itu menjadi tritunggal untuk mempertahankan kekuasaan. Mereka semakin banyak membaca buku-buku yang terkait dengan Benito Amilcare Andrea Mussolini. Lalu memahami sepenuhnya dan mengerti itu ternyata dalam pendidikan adalah mengamalkan. Mereka mengamalkan ajaran Mussolini, menjadi fasis di hampir semua sektor yang bisa dilakukannya. Padahal, tuhan saja profesional, berdiri di porosnya.
Bila diamati, dalam kekerasan dan kekesalan politik mutakhir, betapa banyak pihak yang merasa menjadi diri yang absolut, melawan akal sehat. Padahal, tidak melanggar aturan itu bukan berarti main akal-akalan untuk memenangi pertandingan. Di Madura, di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan di manapun, seolah-olah ada raja yang berkuasa secara absolut yang bersekongkol dengan simpul agama, pemerintah, dan tentu saja preman untuk tujuan yang sama; memenangkan calon, bukan hendak menjunjung tinggi kebaikan, kebenaran dan kejujuran.
Inilah wujud absolutisme di sekitar kita yang beragam dan lintas sektoral pelakunya. Menang itu tidak harus mengalahkan lawan. Tetapi bagaimana lawan bisa mengerti bahwa kita terbukti lebih unggul. Menang tidak perlu harus curang, culas, dan zalim. Tetapi unggul tanpa pengingkaran tentu ini hal yang luar biasa karena diantara kita saudara. Diantara kita adalah warga negara bangsa yang hidup dalam satu koridor yang sama, Bhinneka Tunggal Ika. Bahwa dalam hal tertentu berbeda pilihan, tetapi perbedaan ini tidak menggerus nilai kebhinnekaan yang sudah tertancap begitu dalam di liang kebangsaan.
Revolusi mental ini sesungguhnya menggugah kesadaran bahwa perbaikan itu penting dan monopoli kekuasaan itu berbahaya. Prancis adalah suatu tamsil dimana kepongahan istana dan tidak mendengarkan arus bawah akan mendatangkan bencana revolusi. Penganut absolutisme pada kasta apapun, sebenarnya tak jauh lebih baik dari perompak. Sebagai perampok, pemeluk absolut akan mati dan sejarah telah mencatatnya.
Ketika Henry Morgan sebagai bajak laut paling kejam di jamannya, pada akhirnya dia tamat sebab alam memberinya pelajaran dan meminta Morgan back to nature. Bartholomew Roberts atau Great Pirate Roberts, pencipta bendera hitam dan perompak-absolut juga, akhirnya terbunuh grapeshot (sejenis meriam kapal) yang mengenainya, ketika dia berdiri di dek. Ia dikubur di dalam laut. Begitu pun Kidd yang memiliki kebiasaan hidup senang dan karenanya menjadi bajak laut absolut. Ia sangat kaya. Pemuja absolut lainnya, Edward Blackbeard. Meski sadis dan kejam, mereka tiada karena memang harus sirna. (*)
*Budayawan Muda Madura