Menu

Rindu yang Terkubur

Rindu yang Terkubur
Kapolres Bangkalan, Rama Samtama Putra. (mahmud)

Dear, to Andika Purnomo
Hei laki-laki dengan sepeda motor butut, bagaiman kabarmu malam ini? Kuharap kau baik-baik saja. Aku hanya menebak saja di saat kau membaca suratku ini. Mudah-mudahan ini benar adanya. Setelah kau membaca surat kecilku ini pasti kutahu bahwa dirimu telah mendatangi rumahku.

Di hari itu, pertama kali kita bertatap muka dengan wajahmu yang sangat lugu, diriku telah merasakan ada gemercik kecil yang berkecamuk dalam hati ini, hanya saja aku tak ingin merespons semuanya, hingga pertemuan kedua dan ketiga itu aku merasakan ada daya magnet yang membuatku tak bisa membohongimu bahwa aku telah mengagumimu secara diam-diam.

Perlahan-lahan setiap malam terasa beberapa kerinduan telah melengket di dalam dinding kamarku. Ingin rasanya diriku mengetahui nomor handponemu, namun kuberpikir dua kali, tidak logis kiranya kalau seorang perempuan menanyakannya terlebih dahulu, karena diriku terkurung malu, meski pertemuan ketiga itu diriku langsung mendatangimu terlebih dahulu. Meski sudah tak tahan dan ingin mencari tahu, ada apa dengan hatiku dan apa yang terjadi?

Hem! Maaf, bukan maksudku untuk menghilang darimu. Kejadian kemarin itu kau juga harus tahu, bahwa laki-laki yang menjemputku itu tak lain adalah kakakku sendiri. Maafkan aku harus berbohong padamu, karena aku takut untuk mencinta, dan yang lebih kutakutkan, aku takut kau nantinya akan merasa kehilangan ketika diriku telah pergi dari dunia ini. Kau juga harus tahu, Dik, bahwa aku telah mengidap penyakit kanker otak stadium empat. Orang tua membawaku ke Belanda untuk berobat, di negeri kincir angin ini aku akan menghembuskan napas terakhir ini. Semoga kau mengerti akan keadaan yang terjadi. Karena aku percaya di mana ada pertemuan pastilah perpisahan yang akan menghantui.

Usai kubaca surat Andini, tak terasa apa yang bersuara di hati ini dari pertama kali aku bertemu dengannya mengisahkan perasaan yang sama. Malam itu, sudah menjadi malam yang menyayat bagiku, meski tak ada bekas luka di tangan namun sangat terasa sakit di dalam hati ini, hingga kuterlelap dalam tidur. Satu tahun telah berlalu, sejak kejadianku dan kisah Andini kekasih tak sampai itu pergi untuk selama-lamnya dari kehidupanku dan dunia ini. Masih di hari yang sama, Di bawah Langit yang masih membiru dan laut pun yang masih memukau menjadi penguasa daratannya. Sepeda buntut ini aku masih ada di parkiran kampus untuk merapikan sepedaku dalam barisan. Setelah kubuka helm yang melekat dalam kepalaku, tak sengaja kulihat mobil Avanza di dalam spion sepedaku itu, mengklakson dan mendatangiku. Setelah kuingat-ingat kembali hampir mirip dengan mobil yang dimiliki oleh kakak Andini waktu dulu dia menjemputnya di tempat yang sama. Dan terbukalah pintu mobil itu, turun kaki yang pertama kulihatnya sebelum dengan sosok laki-laki yang turun dari mobil mewahnya. Seketika itu, turun pula sesosok perempuan berkerudung merah muda dengan lipatan yang tak asing bagiku, mengikuti langkah kaki laki-laki yang turun dari mobil mewahnya. Pada saat itu pula dunia seperti berhenti, waktu pun seketika ikut berhenti pada saat kulihat sosok “Andini” dengan perasaan campur aduk antara gembira dan sedih, serta rindu yang selalu mencekam hati dan jiwaku.

“Apakah ini mimpi?” gumamku.

“Hei Dik, masih dengan ekspresi yang sama ternyata ya?” suara itu mengarah padaku dari wajah yang menyerupai Andini kekasih tak sampaiku itu. Ku lihat perempuan itubersama seorang laki-laki tinggi dan gagah.

“Andika?” ucapan panggilan itu padaku. Aku masih tercengang dengan keadaan yang terjadi dan masih bertanya-tanya.

“Kau benar, Andini, lalu surat itu?” tanyaku padanya.

“Iya, aku Andini yang mengirimkan surat itu padamu, namun kutitipkakan pada mbok Surti pembantu rumahku, karena aku harus berangkat ke Belanda untuk berobat ke sana. Alhamdulillah, Tuhan masih ingin memberiku hidup kedua, dan mungkin Tuhan masih melihatku untuk menjalani hidup ini dengan orang yang bisa menuntunku kejalan yang lurus,” ungkapnya padaku dengan mata yang berkaca-kaca.

Aku menganggukkan kepala dan memahami semua penjelasan yang Andini katakan padaku, Andini pun memperkenalkan aku pada saudara laki-lakinya yang tinggi gagah itu.

Dari kejadian itu pula aku bisa mengoreksi diri dengan apa yang terjadi dan aku percaya bahwa tidak ada seorangpun yang tahu terhadap rahasia Tuhan, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari seorang Andika Purnomo, bahwa hidup itu dinamis, hidup itu masalah, ketika seseorang tak ingin mengenal apa itu masalah maka matilah saja, bersamaan dengan kisah Andika yang kembali lagi mendapatkan kekasih tak sampainya dari seorang Andini, meski harus menunggu dalam satu tahun dengan kepedihan yang selalu melekat di dalam lubuk hatinya, namun Andika sangat percaya bahwa Andini adalah kado spesial yang di berikan Tuhan padanya. [*]

Cerpen: Miftahol Hendra Efendi
Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Aktif di LPM Retorika, HMP PBSI, dan Roemah Ilmoe serta aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat STKIP PGRI Sumenep. Karya-karyanya dimuat diberbagai media cetak.

Tanggapi Facebook

Editor:
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

PAMANGGI

LAPORAN KHUSUS

error:

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional