SAMPANG, koranmadura.com – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2025, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Kabupaten Sampang berkolaborasi dengan Himpunan Alumni Karangdurin (HIMAKA) menggelar kegiatan penanaman ribuan bibit pohon di kawasan Pondok Pesantren Karangdurin, Desa Tlambah, Kecamatan Karangpenang, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.
Ketua LPBI NU Sampang, Abd Maliq, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk sinergi antara lembaga keagamaan dan alumni pesantren dalam menjaga keseimbangan alam sekaligus wujud nyata kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
“Kegiatan penghijauan ini juga dilakukan serentak di lingkungan pondok pesantren yang memiliki ruang terbuka hijau,” katanya, Senin, 20 Oktober 2025.
Abd Maliq berharap, gerakan menanam pohon tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pesantren lain untuk turut menjaga alam, mengingat kondisi iklim dan cuaca yang kian tidak menentu.
“Pesantren adalah tempat mencetak generasi berakhlak, tapi juga harus jadi pelopor pelestarian alam. Karena menjaga bumi adalah bagian dari ibadah,” tutur Abd Maliq.
Aktivis yang juga tergabung dalam Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) itu menegaskan, kegiatan penghijauan ini bukan sekadar simbolis, melainkan langkah nyata menciptakan lingkungan pesantren yang asri, sejuk, dan sehat bagi para santri.
“Apalagi menjaga alam juga merupakan bentuk cinta terhadap bumi sebagaimana ajaran Islam yang mendorong manusia untuk merawat alam,” pungkasnya.
Sementara itu, perwakilan Ponpes Karangdurin, Ustaz Ahmadi Danrais, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap LPBI NU dan HIMAKA atas kepeduliannya terhadap lingkungan. Ia menilai kegiatan ini sangat penting untuk masa depan pesantren dan generasi muda.
“Tujuan dari penanaman pohon ini adalah untuk menciptakan kelestarian lingkungan di kalangan pesantren. Dengan menanam pohon, kita sedang menanam kehidupan. Semakin baik kualitas udara di sekitar pesantren, maka juga baik bagi kesehatan santri dan masyarakat sekitar,” tuturnya.
Ketua HIMAKA, H. Ali Abdul Hakim, menambahkan bahwa kolaborasi semacam ini akan terus dilanjutkan di berbagai bidang, seperti pendidikan, sosial, dan lingkungan.
“Kami ingin HIMAKA selalu hadir untuk pesantren, tidak hanya saat acara besar, tapi juga dalam kegiatan nyata seperti penghijauan ini,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, pohon mahoni dipilih sebagai bibit utama karena memiliki daya tumbuh kuat, nilai ekonomi tinggi, serta kemampuan menyerap karbon dioksida.
“Dan bahkan pohon mahoni, dikatakannya juga bermanfaat untuk penyerapan karbon dioksida. Sebagai bentuk syukur dan harapan, pohon-pohon yang ditanam ini dapat tumbuh subur dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang. Terlebih menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk terus menjaga alam dan menanam kebaikan bagi bumi tercinta,” tutupnya. (MUHLIS/DIK)











