BANGKALAN, koranmadura.com – Misteri hilangnya seorang santriwati yang menjadi korban dugaan kekerasan seksual oleh oknum lora Pondok Pesantren Nurul Karomah, Desa Paterongan, Kecamatan Galis, Bangkalan, akhirnya mulai terungkap.
Korban yang sempat tidak diketahui keberadaannya ternyata dijemput oleh sejumlah santri yang datang atas nama pondok. Selama 19 hari, korban sempat menghilang tanpa kabar, sementara orang tua diliputi kegelisahan.
Kuasa hukum korban, Ali Maulidi, mengungkapkan bahwa korban meninggalkan rumah bukan sepenuhnya atas kehendak sendiri. Ada pihak dari lingkungan pondok yang datang menjemput korban saat peristiwa tersebut terjadi.
“Pada saat korban hilang dari rumah memang dibantu oleh beberapa santri dari pondok, jadi ada yang menjemput ke rumah korban,” ujar dia, Sabtu, 31 Januari 2026.
Hingga kini, belum diketahui secara pasti ke mana korban dibawa oleh utusan Pondok Pesantren Nurul Karomah. Menurut Ali, sapaan akrab Ali Maulidi, korban masih belum bisa dimintai penjelasan secara mendalam terkait peristiwa tersebut.
“Psikologi korban masih belum stabil karena masih shock, jadi sementara waktu kami biarkan korban tenang sampai dia ingin bercerita sendiri,” kata dia.
Baca: Hilang 19 Hari, Santriwati Korban Kekerasan Seksual di Bangkalan Akhirnya Ditemukan
Korban diketahui meninggalkan rumah pada 7 Januari 2026 sekitar pukul 01.30 WIB. Saat itu, korban masih menonton televisi, sementara ibunya menunaikan salat lalu tertidur.
Ketika sang ibu terbangun, korban sudah tidak berada di tempat. Kepanikan pun terjadi saat keluarga menyadari anak tersebut telah menghilang dari rumah tanpa diketahui arah tujuannya.
Korban akhirnya ditemukan pada 26 Januari 2026 di sebuah masjid di kawasan Jalan Suramadu. Informasi keberadaan korban diketahui keluarga melalui panggilan telepon tanpa identitas yang memberikan petunjuk lokasi korban. (MAHMUD/DIK)










