Di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Malam Nisfu Sya’ban tidak pernah sekadar lewat sebagai penanda kalender hijriah. Ia hadir sebagai malam yang hidup dengan doa yang lirih, bacaan Yasin yang berulang, dan langkah kecil anak-anak yang menyusuri gang demi gang sambil menebar salam.
Sejak selepas Magrib, masjid dan langgar (musala) mulai dipenuhi jemaah. Suara imam memandu pembacaan Surah Yasin tiga kali, dengan niat yang berlapis: memohon umur panjang dan taat beribadah, rezeki yang lapang dan tolak bala, serta iman yang tetap terjaga hingga akhir hayat. Di sela bacaan, tangan-tangan terangkat, doa-doa dilangitkan. Ada yang berdoa untuk diri sendiri, ada pula yang diam-diam menyebut nama orang tua yang telah lebih dulu berpulang.
Namun, Malam Nisfu Sya’ban di Sumenep tak berhenti di sajadah. Usai doa dan zikir, suasana kampung perlahan berubah. Anak-anak keluar dari rumah atau langgar bergerombol kecil, berpakaian rapi, sebagian membawa kantong plastik atau tas kecil. Mereka mulai berkeliling bersalaman dari satu rumah ke rumah lain, dari kerabat dekat hingga tetangga jauh. Senyum mereka tulus, salam mereka polos, dan langkah mereka penuh semangat.
Setiap pintu yang diketuk hampir selalu terbuka. Tuan rumah menyambut dengan senyum, mengusap kepala anak-anak, lalu menyodorkan jajanan: biskuit, permen, kue tradisional, atau sekadar segenggam snack. Tak ada hitung-hitungan, tak ada pamrih. Yang ada hanya rasa berbagi dan kegembiraan sederhana.
Tradisi ini mungkin tampak sepele di mata luar. Namun di situlah letak kedalamannya. Anak-anak belajar adab bersalaman, mengenal sanak famili, dan merasakan bahwa kampung adalah ruang aman yang penuh kasih. Orang dewasa belajar memberi, tanpa perlu diumumkan. Dan semua orang, sadar atau tidak, sedang merajut silaturahmi yang mungkin sepanjang tahun jarang tersentuh.
Malam Nisfu Sya’ban di Sumenep mengajarkan bahwa agama tidak hanya dibaca, tetapi dihidupi. Ia tidak hanya dilantunkan dalam doa, tetapi dipraktikkan dalam senyum, dalam salam, dan dalam sebungkus jajanan yang dibagikan dengan ikhlas.
Di tengah zaman yang kian individualistik, tradisi ini menjadi pengingat: bahwa keberkahan tidak selalu datang dalam bentuk besar dan gemerlap. Kadang, ia hadir lewat bacaan Yasin yang khusyuk, doa yang pelan, dan tawa anak-anak yang pulang dengan kantong penuh jajanan serta hati yang lebih dekat satu sama lain.
Dan mungkin, di situlah makna Nisfu Sya’ban yang paling hakiki, malam ketika langit terbuka, dan sesama manusia saling mendekat.
* Pengurus PW GP Ansor Jawa Timur










