SAMPANG, koranmadura.com – Pemerintah Kabupaten Sampang melalui Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) memastikan tidak ada satu pun Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Sampang yang bekerja di Negara Iran maupun Israel. Kepastian tersebut disampaikan menyusul konflik pasca penyerangan gabungan Israel-Amerika Serikat ke Negara Iran pada 28 Februari 2026 lalu.
Kepala Bidang Penempatan Perluasan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Disnaker Kabupaten Sampang, Uriantono Triwibowo, menyebutkan sebanyak 481 PMI asal Kabupaten Sampang bekerja di kawasan Timur Tengah melalui jalur resmi atau legal. Data tersebut merupakan akumulasi selama tiga tahun terakhir, sejak 2023 hingga 2025.
Adapun rincian sebaran PMI asal Kabupaten Sampang di wilayah Timur Tengah yakni 409 orang di Arab Saudi, 1 orang di Qatar, 2 orang di Yordania, 2 orang di Uni Emirat Arab, dan 67 orang di Turki.
“Untuk PMI Sampang di Negara Iran maupun Israel, tidak ada yang bekerja di sana. Terbanyak warga Sampang bekerja di Arab Saudi. Sedangkan jumlah PMI sebanyak 481 orang itu merupakan data tiga tahun terakhir, sejak 2023-2025, dan merupakan TKI legal atau resmi yang terdaftar di Disnaker Sampang,” ujarnya, Rabu, 4 Marer 2026.
Uriantono menjelaskan, rata-rata PMI asal Sampang di Timur Tengah bekerja sebagai sopir, housekeeping, serta tenaga kesehatan. Meski kondisi geopolitik di kawasan tersebut tengah memanas, pihaknya mengaku belum menerima laporan adanya PMI yang kehilangan atau putus kontak dengan keluarga.
“Memang pasca diserangnya Iran oleh Israel-AS, sejumlah negara di Timur Tengah ikut memanas dan ada yang mendapat serangan balasan dari Iran. Namun serangan hanya terjadi di titik pangkalan militer yang terdapat pangkalan Amerika. Untuk area permukiman kemungkinan masih aman. Sehingga sampai sekarang kami belum menerima laporan resmi terkait kondisi PMI asal Sampang,” pungkasnya. (MUHLIS/DIK)











