Setiap tahun masyarakat muslim negeri ini, tiada henti berdebat dalam persoalan penentuan awal Ramadhan, pelaksanaan Idul Fitri dan Idul Adha. Tiga moment itu saat sudah berlalupun, perdebatan, perbincangan, diskusi masih terus berlanjut. Keberadaan media sosial, makin memberi kesempatan masyarakat terlibat pro kontra. Bukan hal luar biasa, kadang data-data lamapun, dijadikan amunisi perdebatan.
Yang mengherankan, perdebatan entah sudah berapa tahun itu, saat ini terjadi ketika situasi dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, sempat terabaikan sesaat. Masyarakat seolah lupa dampak perang, baik pada tingkat global maupun lokal. Padahal, kasat mata, akibat perang mulai terasa pada hal-hal kecil seperti kenaikan harga plastik pembungkus kebutuhan sehari-hari. Tapi agaknya, perdebatan tiga soal itu, lebih menarik perhatian hingga dampak perang yang sudah mulai terasa, terlupakan.
Dampak perang yang lebih serius, yang mulai terasa langsung seperti kemungkinan kenaikan BBMpun, agak terabaikan. Suasana mudik yang disertai soal hisab dan rukyat, melenakan masyarakat dari berbagai dampak perang yang sangat serius.
Berbagai pernyataan Presiden tentang penghematan, termasuk yang disampaikan para menteri, seperti rencana kenaikan BBM, masuk kantor dikurangi diganti WFH, sementara, seperti angin lalu. Mungkin, karena dampak masih terasa sebatas persoalan pembungkus plastik, perhatian masyarakat setengah hati. Atau bisa jadi, karena suasana sedang lebaran.
Namun, satu hal yang agak merisaukan, setiap tahun ummat Islam negeri ini, seperti mengulang-ulang perdebatan tiga persoalan itu. Bahkan, sebenarnya, ada hal lain, yang selalu terulang dalam anatomi berbeda misalnya, soal Natal dan Tahun baru. Setiap menjelang akhir tahun, selalu jadi perdebatan dan perbincangan.
Tidak jelas, apakah ini gambaran ketakmampuan dalam menentukan prioritas penyelesaian masalah yang ada di tengah masyarakat? Atau, merupakan ‘hoby’ seperti pernah disinggung Gus Dur. Sibuk bicara, yang tak sesuai dengan apa yang harus dikerjakan.
Ada kesenjangan antara pembicaraan dan produktivitas kinerja. Sibuk mengulang-ulang membicara persoalan, yang sebenarnya sudah selesai.
Ketika penulis masih anak-anak, sekitar 55 tahun lalu, pembicaraan soal fiqih seperti Qunut, taraweh, tahlil, peringatan maulid dan entah apalagi, sudah menjadi diskusi panjang. Saat inipun, setelah lebih dari lima dekade, pembicaraan ecek-ecek itu muncul lagi. Kembali ummat disibukkan perdebatan fiqih berkepanjangan, sementara persoalan keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, kondisi ummat yang marginal, kurang diperhatikan.
Pada tahun 1990, sebenarnya ada tanda-tanda menggembirakan merebaknya tradisi intelektual di kalangan ummat Islam. Khasanah pustaka demikian semarak dipenuhi berbagai pemikiran-pemikiran dinamis. Namun, sekitar sepuluh tahun belakangan ini, ummat kembali terperangkap perdebatan fiqih. Sebuah kemunduran luar biasa, dalam pemikiran yang ironisnya terjadi ketika tantangan kehidupan sosial, justru makin berat.
Perang di Timur Tengah sekarang ini, seakan membuka realitas sosial kondisi masyarakat muslim Indonesia betapa ketinggalan jauh dari negara, yang relatif lebih kecil seperti Iran. Lebih memprihatinkan lagi ketika Iran, selama 40 tahun lebih praktis menjadi negara yang tercampakkan akibat embargo AS dan negara Eropa. Tetapi ternyata Iran justru memperlihatkan kemajuan dasyat, dalam pengembangan pendidikan.
Kemampuan melayani kekuatan super power Amerika Serikat, hanya satu contoh betapa Iran, telah jauh meninggalkan Indonesia. Candaan Wakil Ketua MUI Marsudi Syuhud, yang membandingkan kehebatan Iran dalam kemampuan pertahanannya, dengan menyebut pesawat Indonesia tak perlu ditembak, akan jatuh sendiri, seperti membuka kenyataan kondisi keterbelakangan ummat Islam Indonesia.
Tak perlu melihat statistik kemajuan pendidikan Iran. Dari kemampuan melayani perang, yang sudah berlangsung hampir satu bulan itu, menegaskan betapa Iran telah melangkah jauh meninggalkan Indonesia.
Ketika Iran sudah sibuk dengan kemampuan membuat drone secara massal, missil, rudal, pesawat serta pengembangan pendidikan yang luar biasa, masyarakat muslim negeri ini, masih sibuk berdebat soal rukyat dan hisab serta berbagai masalah fiqih ecek-ecek lainnya.
Kita seharusnya menyadari bahwa kemajuan pendidikan memperlihatkan tanda-tanda bukan membaik, malah memburuk ketika perhatian pada pendidikan justru lebih memperhatikan persoalan perut. Itupun dengan pengelolaan yang masih amburadul.
Semoga saja, ada tanda-tanda mengejutkan yang dapat membawa negeri yang mayoritas penduduknya muslim, kembali ke jalan kemajuan. Sebenarnya terlalu banyak potensi anak negeri, yang dapat dengan mudah dipaparkan. Sayang, kurang mendapat perhatian dan tidak dikelola dengan baik. Masyarakatpun, masih sibuk perdebatan, yang jauh dari produktif. Angel wis angel.










