Oleh : Miqdad Husein*
Saropin, seorang pedagang nasi goreng bertanya pada kawannya Maman, pedagang ketoprak keliling, “Siapa yang akan dipilih pada tanggal 9 Juli nanti.” Sambil menguap Maman menjawab, “Itu mah rahasia, kawan. Nanti tergantung di TPS.” Saropin memandang heran. “Tak ada yang memaksamu agar pilih Capres tertentu?” tanyanya, penuh harap.
Pedagang ketoprak dari Kuningan itu terperangah sejenak, hilang rasa mengantuknya; memandang sang kawan seperti ketemu hantu. “Lha, ini era reformasi kawan. Apa masih ada yang berani maksa-maksa milih Capres. Lalu apa manfaatnya. Nanti kan di TPS tak ada yang tahu. Hanya kita dan Tuhan yang tahu,” tutur Maman.
Dengan penuh semangat pedagang ketoprak itu nyerocos bertutur bahwa saat ini sudah bukan masanya lagi main paksa seperti di masa Orde Baru. Rakyat sudah pada berani bersikap mau milih siapa. “Hanya satu yang bisa mengoda dan mengarahkan seseorang mau milih siapa. Hepeng. Fulus. Itu saja, yang bisa mendorong. Itupun kalau yang bersangkutan tak punya sikap alias bisa dibeli,” urai Maman, berlagai kayak pengurus partai.
Persoalannya, lanjut Maman, apa ada bagi-bagi uang dalam Pilpres seperti kayak Pileg, April yang lalu. Jika main uang kalau ingin terpilih sebagai Presiden, agak sulit. “Entah berapa duit ya yang harus dibagi. Mungkin hanya yang punya pohon atau percetakan uang yang bisa bermain uang di Pilpres,” katanya, sambil tertawa lebar.
Tiba-tiba Maman berhenti tertawa. “Sebentar. Tadi kamu menyebut soal paksa memaksa. Apa kamu ada yang maksa memilih Capres tertentu?” tanya Maman, bergaya Jaksa. “Ngak sih. Cuma khawatir saja, ada yang mendata kayak berita yang di Jakarta itu. Tapi ngomong-ngomong, kalau misalnya ada yang maksa kamu, gimana?” tanya Saropin.
Spontan itu pedagang ketoprak berdiri sambil mengacungkan uleg-ulegnya. “Lawan. Harus berani. Atau, kalau kamu tak punya nyali, pura-pura takut saja. Berlagak nurut. Toh nanti saat di TPS yang maksa-maksa itu tak tahu pilihanmu apa,” tegas Maman, sambil menurunkan uleg-ulegnya.
“Sekarang ini semua informasi terbuka. Segala sesuatu sudah terlihat jelas. Kamu juga bisa dengan mudah menyampaikan informasi apapun tanpa harus susah payah. Cukup sms atau dipajang di Facebook. Kamu sering nampang di facebook kan? Bikin status di situ kalau ada yang maksa atau nakut-nakutin kamu. Biar masyarakat se Indonesia tahu. Biar malu dia kok di era sekarang main paksa kayak gaya-gaya lama,” tegas Maman, bagai juru kampanye.
Hak-hak masyarakat untuk memilih sekarang ini dijamin. Yang mencoba-coba memaksapun juga bisa dikenakan sanksi pidana. “ Itu kan pernah muncul di tv. Bisa dipenjara yang maksa-maksa. Jadi, tak ada alasan kita takut pada orang-orang yang masih berpikir gaya lama itu,” katanya, menambahkan.
Yang juga penting, lanjut pedagang ketoprak yang rajin mengupdate status di Facebook itu, disamping memiliki keberanian dalam memilih sesuai nurani, masyarakat harus diajak mengawasi seluruh pelaksanaan Pilpres. “Dijaga bersama, agar jangan sampai curang. Kita kawal. Lalu jangan lupa, mari kita bersikap legawa, siapapun yang terpilih kita terima dengan lapang dada sebagai Presiden/Wakil Presiden kita. Kita dukung dia. Kita juga awasi dia, agar memenuhi janji-janjinya selama kampanye,” tuturnya, sambil siap-siap mendorong gerobaknya.
*Kolumnis, tinggal di Jakarta