Oleh : Abrari Alzael*
Suatu siang di Norwegia, di sekitar Central Station Oslo. Banyak orang berlalu-lalang, berpenampilan rapi. Mereka bukan orang kaya meski tampil parlente. Mereka hanya pengais tong sampah, mencari botol bekas minuman suplemen. Negeri ini, sepintas beradab karena pemulung pun necis. Suatu prilaku yang berbeda dengan pelaku yang sama, di negeri ini.
Bila musim panas tiba, kaum pemulung ini semakin ramai populasinya. Sebab kemarau memunculkan pengonsumsi minuman suplemen yang tinggi. Otomatis, barang rongsokan di tempat sampah bertambah yang melipatgandakan penghasilan pekerja di sektor ini.
Di negera itu, agak sulit membedakan antara kaya dan miskin. Karena para pekerja di sektor formal mengenakan uniform yang sederhana. Misalnya, orang yang mengenakan jeans dan tas punggung ke kantor, boleh jadi eksekutif di sebuah perusahaan besar. Sebab secara umum, dress code kantor di sana fleksibel dan casual. Busana resmi dikenakan hanya pada saat meeting. Selebihnya, pakaian sederhana tetapi santun. Yang terpenting adalah kerja dan melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar.
Di republik tercinta, Indonesia, sebenarnya memiliki cerita yang tak jauh berbeda. Orang-orang yang kelihatannya rapi, berhati baik dan nampak peduli, justru darahnya dingin. Meski tidak membuat orang lain terluka, setidaknya ia berhasil menyayat, sakit, dan perih. Mereka yang bermanis wajah dan mengaku sesuai titah raja, ternyata sebangsa omnivora dan lebih kanibal. Ia memenggal kepala orang lain tanpa gergaji. Tak ada yang menyangka serupa itu, tetapi akhirnya tak ada yang menyangkal bahwa memang seperti ini, setelah belangnya terkuak. Kisah penjagal berdarah dingin di republik ini, mengingatkan pada peristiwa di Distrik Whitechapel, London.
Seorang psikopat yang sulit terlacak, memutilasi dan menggorok leher manusia. Pelakunya, akhirnya diketahui bernama Jack the Ripper. Kepolisian Victoria sempat kalang kabut dalam mengungkap kasus ini. Jack sang tertuduh yang dibuktikan sejumlah alat bukti, tak jua mendekam di penjara. Ia selalu selamat. Sebagai penjagal, ia lebih pintar dari polisi. Meskipun sebenarnya, polisi Distrik Whitechapel lebih cerdik, tetapi sebagai polisi dan manusia, aparat di sana juga masuk angin.
Kisah lainnya, Holmes. Ia aktivis penipu layanan asuransi di Amerika di era 1890-an. Ia memiliki ranjau untuk mengoperasi korbannya yang sebagian besar perempuan muda. Para korban itu dibius gas beracun sebelum dibawa ke tempat persembunyian Holmes. Setelah korban tewas, jasad mereka dibuang tanpa kulit dan tulang-belulangnya dijual ke sekolah medis.
Dibanding para bedebah di republik ini, pelaku kriminal di negara lain berani setelah korban tak bernyawa untuk melakukan apapun termasuk profitisasi belulang di ruang bisnis. Sementara bandit eksekutif di tanah tercinta, memodifikasi ide untuk kepentingan diri pada saat anak bangsa itu masih sehat. Inipun dilakukan atas nama (tugas) negara. Tak ada bedebah sekaliber dunia yang berani seperti ini, kecuali bapak bangsa di republik tercinta, sampai kelaparan itu ada kini nyata adanya. Sebab, bapak bangsa memperlakukan anaknya sebagai ikan kecil untuk dimangsa.
Oleh karena itu, tak ada lagi tempat berlindung bagi anak bangsa. Mencari suaka kepada bapak bangsa sama artinya dengan menyerahkan dirinya untuk dielus dan dimutilasi tanpa rasa. Lalu bapak bangsa tersenyum karena menganggap telah berhasil memperdaya anak bangsa atas nama negara. Pada situasi seperti ini, malaikat menggelengkan kepala karena aras politik menggila dan bapak bangsa berkuasa dengan konsep raja tega.
*) Budayawan Muda Madura